ACTIVITY
BASED COSTING ( ABC )
Pengertian Activity Based Costing
Activity Based Costing (ABC)
adalah metode membebankan biaya aktivitas-aktivitas berdasarkan besarnya
pemakaian sumber daya dan membebankan biaya pada obyek biaya seperti produk
atau pelanggan, berdasarkan besarnya pemakaian aktivitas, serta untuk mengukur
biaya dan kinerja dari aktivitas yang terkait denganproses dan obyek biaya (
Bastian Bustami, 2009).Menurut Mulyadi (2003),
Activity Based Costing (ABC) adalah
pendekatan penentuan biaya produk yang membebankan biaya ke produk atau jasa
berdasrkan konsumsi sumber daya yang disebabkan oleh aktivitas. Dasar pemikiran
pendekatan penentuan biaya ini adalah bahwa produk atau jasa perusahan
dilakukan oleh aktivitas yang dibutuhkan dengan menggunakan sumber daya yang
menyebabkan timbulnya biaya. Sumber daya dibebankan ke aktivitas, kemudian
aktivitas dibebankan ke obyek biaya berdasarkan penggunaannya. ABC
memperkenalkan hubungan sebab akibat antara pemicu biaya (cost driver) dengan
aktivitas.
ABC System merupakan suatu
alternatif penentuan harga pokok produk atau jasa yang saat ini cukup dikenal
dan sangat relevan. ABC System merupakan sistem informasitentang pekerjaan atau
aktivitas yang mengkonsumsi sumber daya dan menghasilkannilai bagi konsumen
Klarifikasi Biaya dan Permasalahan
Alokasi Biaya
Secara
umum, biaya di dalam perusahaan manufaktur dikelompokan menjadi beberapa kelompok biaya menurut spesifikasi
manfaatnya.
1. Biaya
bahan baku adalah biaya yang dikeluarkan untuk membeli bahan baku yang telah
digunakan untuk menghasilkan suatu produk jadi tertentu dalam volume tertentu.
2. Biaya
tenaga kerja langsung adalah biaya yang dikeluarkan untuk membayar pekerja yang
terlibat secara langsung dalam proses
produksi. Tidak semua pekerja yang terlibat didalam proses produksi selalu
dikategorikan kedalam biaya tenaga kerja langsung. Hanya pekerja yang terlibat
secara langsung didalam proses menghasilkan produk perusahaan yang dapat
dikelompokan sebagai tenaga kerja langsung.
3. Biaya
overhead pabrik adalah berbagai macam biaya selain biaya bahan baku langsung,
dan biaya tenaga kerja langsung tetapi juga tetap dibutuhkan dalam proses
produksi.
1)
biaya bahan penolong ( bahan tidak
langsung) yaitu bahan tambahan yang dibutuhkan untuk menghasilkan suatu produk
tertentu. Misalnya, kain dan kancing dibutuhkan untuk menghasilkan pakaian,
paku dan cat dibutuhkan untuk menghasilkan meja tulis dan sebagainya. Bahan
penolong merupakan elemen bahan baku yang tetap dibutuhkan suatu produk jadi,
tetapi bukan merupakan elemen utama. Tanpa bahan penolong suatu produk tidak
akan pernah menjadi produk yang siap pakai dan siap dijual.
2)
Biaya tenaga kerja penolong ( tenaga
kerja tidak langsung ) adalah pekerja yang dibutuhkan dalam proses menghasilkan suatu barang tetapi tidak
terlibat secara langsung didalam proses produksi. Misalnya, mandor dari para penjahit dan
tukang kayu, satpam pabrik dan sebagainya. Tenaga kerja penolong merupakan
tenaga kerja yang tetap dibutuhkan, tetapi bukan merupakan elemen tenaga kerja
utama didalam sautu produk. Tetapi, tanpa tenaga kerja penolong proses produksi
dapat terganggu.
3)
Biaya pabrikasi lain adalah biaya-biaya
tambahan yang dibutuhkan untuk menghasilkan suatu produk selain biaya bahan
penolong dan biaya tenaga kerja penolong. Seperti biaya listrik dan air pabrik,
biaya telepon pabrik, depresiadi bangunan pabrik, biaya depresiasi mesin dan
sebagainya.
4)
Biaya pemasaran, digunakan untuk menampung
keseluruhan biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk mendistribusikan barang
dagangannya hingga sampai ketangan langganan. Biaya ini mencakup, gaji salesman, komii saleman, biaya iklan, biaya listrik kantor pemasaran, biaya angkut
penjualan, biaya depresiasi kantor dan kendaraan pemasaran, dan sebagainya.
5)
Biaya administrasi dan umum digunakan
untuk menampung keseluruhan biaya operasi kantor. Biaya ini mencakup biaya gaji
direktur, gaji seketaris, biaya listrik, biaya telepon, biaya depresiasi
bangunan dan sebagainya.
Kemudian
biaya-biaya tersebut di atas dikelompokkan lagi ke dalam 2 kelompok besar
biaya, yaitu biaya produksi dan biaya operasional.
1) Biaya
produksi
1.
Biaya bahan baku angsung,
2.
Biaya tenaga kerja langsung, dan
3.
Biaya overhead
Itu
berarti, biaya produksi dari suatu perusahaan manufaktur terdiri dari tiga
kelompok biaya, yaitu biaya bahan langsung, biaya tenaga kerja langsung, dan
biaya overhead. Akumulasii dari tiga
kelompok biaya tersebut didalam satu periode akuntansi menghasilkan baiya
produksi untuk periode tersebut.
2) Biaya
operasional
1. Biaya
pemasaran, dan
2. Biaya
administrasi dan umum.
Biaya operasional adalah biaya yang
berkaitan dengan operasi perusahaan diluar biaya produksi. Biaya operasi atau
biaya komersial mencakup dua kelompok biaya, yaitu biaya pemasaran dan biaya administrasi
dan umum.
Dari keseluruhan biaya produksi seperti
yang disebutkan di atas, biasanya biaya bahan baku langsung dan biaya tenaga
kerja langsung yang dibebankan kepada suatu jenis produk tertentu dapat
dihitung dengan akurat. Karena, biaya bahan baku langsung dan biaya tenaga
kerja langsung dapat diindentifikasi dengan jelas untuk setiap jenis produk
yang dihasilkan.
Tetapi,
dalam hal alokasi biaya overhead pabrik
pada setiap jenis produk yang dihasilkan suatu perusahaan, tidak semudah dan
seakurat biaya bahan baku langsung dan biaya tenaga kerja langsung. Hal itu
disebabkan Karena biaya overhead
merupakan biaya yang tidak dapat diindentifikasi secara jelas pada setiap
produk yang dihasilkan perusahaan.
Biaya overhead pabrik terdiri dari 3 kelompok biaya, yaitu biaya bahan penolong, biaya tenaga kerja penolong, dan biaya
pabrikasi lainnya. Seringkali bahan penolong yang digunakan oleh suatu perusahaan
untuk suatu produk tetentu tidak dapat diukur secara akurat tigkat pemakaiannya
per unit produk. Demikian pula dengan biaya tenaga kerja penolong, seringkali
juga tidak dapat diukur secara akurat tingkat pemakaiinya per unit produk yang
dihasilkan. Misalnya, di dalam perusahaan produsen mebel. Jumlah biaya
pemakaina paku, cat, dan pelitur yang digunakan untuk setiap produk dihitung
dengan cara membagi jumlah biaya total didalam sautu masa produksi denga volume
produk yang dihasilkan pada masa produksi tersebut. Itu berarti, biaya
pemakaian paku, pelitur, dan cat dihitung berdasarkan tingkat pemakaiian
rata-rata per unit produk. Padahal kenyataannya, jumlah pemakaiian cat,
pelitur, dan paku untuk setiap jenis produk pasti bereda satu dengan yang
lainnya. Demikian pula dengan biaya tenaga kerja penolong, dihitung dengan cara
yang kurang lebih Sama. Biaya pebrikasi lainnya, seperti biaya listrik pabrik
juga dihitung dengan cara yang sama. Itu berarti, besarnya biaya listrik
tersebut juga akan dihitung berdasarkan tingkat pemakaian rata-rata per jenis
produk. Padahal kenyataannya, tenaga listrik yang digunakan untuk setiap jenis
produk pasti berbeda satu dengan lainnya.
Alokasi
biaya overhead dengan cara tersebut diatas mengakibatkan penetapan biaya produk
untuk setiap jenis produk tidak dapat ditentukan secara akurat. Jika penetapan
biaya produk per jenis produk tidak dapat ditentukan akurat maka penetapan
harga jual per unit per jenis produk juga dapat bias, sedangkan perusahan
selalu dihadapkan dengan persaingan dengan para kompetitornya dengan tingkat
yang seringkali sangat ketat. Jika penetapan harga jual produk didasarkan pada
penetapan biaya produk yang tidak akurat maka perusahan dapat mengalammi
permasalahan serius didalam persaingan harga produknya. Karena itu, diperlukan
suatu metode perhitungan biaya produk yang lebih akurat dibandingkan dengan
metode penetapan biaya produk yang bisa digunakan tersebut.
Activity
Based Costing
Activity Based Costing (ABC) adalah
pendekatan penentuan biaya produk yang membebankan biaya ke produk atau jasa
berdasrkan konsumsi sumber daya yang disebabkan oleh aktivitas. Dasar pemikiran
pendekatan penentuan biaya ini adalah bahwa produk atau jasa perusahan
dilakukan oleh aktivitas yang dibutuhkan dengan menggunakan sumber daya yang
menyebabkan timbulnya biaya. Sumber daya dibebankan ke aktivitas, kemudian
aktivitas dibebankan ke obyek biaya berdasarkan penggunaannya. ABC
memperkenalkan hubungan sebab akibat antara pemicu biaya (cost driver) dengan
aktivitas.
1.
Aktivitas
Adalah
pekerjaan yang dilakukan dalam suatu organisasi. Aktivitas adalah tindakan,
gerakan atau rangkaian pekerjaan. Aktivitas dapat pula diartikan sebagai
kumpulan tindakan yang dilakukan dalam organisasi yang berguna untuk tujuan
penentuan biaya berdasarkan aktivitas. Aktivitas adalah segala sesuatu yang
mennyebabkan konsumsi overhead. Biaya untuk mlakukan aktivitas dibebankan ke
produk yang menyebabkan aktivitas tersebut.
2.
Sumber daya
Adalah
sumber ekonomis yang dibebankan atau digunakan dalam pelaksanaan aktivitas.
Gaji dan bahan, merupakan contoh sumber daya yang diguanakan untuk melakukan
aktivitas.
3.
Elemen biaya
Adalah
jumlah yang digunakan untuk sumber daya yang dikonsumsi oleh aktivitas dan
terkandung didalam “cost-pool”. Misalnya, cost-pool untuk hal-hal yang
berkaitan dengan mesin mungkin mengandung elemen biaya untuk tenaga, elemen
biaya teknik, dan elemen biaya depresiasi.
4.
Pemicu biaya atau cost driver
Adalah
faktor-faktor yang menyebabkan perubahan biaya aktivitas. Cost driver merupakan
faktor yang dapat diukur yang digunakan untuk membebankan biaya ke aktivitas
dan dari aktivitas ke aktivitas lainnya, produk dan jasa. Dua jenis pemicu
biaya yang dikenal adalah pemicu sumber daya, (resource driver).
1.
Pemicu sumber daya (resource driver)
Adalah
ukuran kuantitas sumber daya yang dikonsumsi oleh aktivitas. Pemicu sumber daya
digunakan untuk membebankan biaya sumber daya yang dikonsumsi oleh aktivitas ke
cost pool tertentu. Misalnya adalah persentase dari luas total yang digunakan
oleh suatu aktivitas.
2.
Pemicu aktivitas (activity driver)
Adalah
ukuran frekwensidan identitas permintaan terhadap suatu aktivitas terhadap
obyek biaya. Pemicu biaya aktivitas digunakan untuk membebankan biaya dari cost
pool ke obyek biaya. Misalnya, jumalah suku cadang yang berbeda yang digunakan
dalam produk akhir untuk mengukur
konsumsi aktivitas penanganan beban untuk setiap produk.
Activity based costing adalah metode
penetapan biaya (costing) yang dirancang untuk menyediakan informasi biaya bagi
manajer untuk keputusan stratejik dan keputusan lainnya yang mungkin akan
mempengaruhi kapasitas dan juga biaya tetap.
|
Dengan ABC, biaya overhead pabrik dibebankan
ke obyek biaya seperti produk atau jasa dengan mengientifikasikan sumber daya,
aktivitas dan memproduksi output. Cost driver digunakan untuk menghitung biaya
sumber daya ke produk dari setiap unit aktivitas. Kemudian, setiap biayasumber
daya dibebankan ke produk atau jasa dengan kuantitas setiap aktifitas yang
dikonsumsi pada periode tertentu.
ABC
adalah teknik yang dirancang untuk menangani faktor-faktor yang terkait dengan
alokasi biaya overhead dengan lebih akurat pada saat menentukan harga pokok
produk. Usaha untuk mencapainya dilakukan dengan mengidentifikasi aktivitas
utama seperti batch setup, pemrosesan order, pembelian, dan aktivitas lainnya
yang mengkonsumsi overhead.
ABC
merupakan sistem yang mempertahankan dan memproses data keuangan dan
operasional dari sumber daya perusahan berdasarkan aktivitas, obyek biaya, cost
driver, dan ukuran kinerja aktivitas. ABC juga membebankan biaya ke aktivitas
dan obye biaya.
Dalam
ABC yang perlu diperhatikan adalah meliputi sebagai berikut :
1.
Biaya produksi dan non-produksi
dibebankan ke produk.
2.
Beberapa biaya produksi tidak dimasukkan
ke biaya produk.
3.
Terdapat sejumlah pool biaya overhead,
setiap pool dialokasikan ke produk dan obyek costing lainnya dengan menggunakan
ukuran aktivitas masing-masing yang khusus;
4.
Bebas alokasi biasanya berbeda dengan
basis alokasi dalam sistem akuntansi biaya tradisional.
5.
Tariff overhead atau tingkat aktivitas
disesuaikan dengan kapasitas aktivitas dan bukannya dengan kapasitas yang
dianggarkan.
Dalam
ABC, biasanya hanya akan dibebankan ke produk apabila ada alasan yang mendasar
bahwa biaya tersebut dipengaruhi oleh
Alokasi
Dua Tahap
Dalam sistem biaya
tradisional membebankan biaya overhead pabrik dari pabrik atau cost pool
departmental ke output dengan menggunakan cost driver berbasis volume atau cost
driver berlevel unit, seperti jam kerja langsung atau jam mesin, biaya bahan
baku langsung dan biaya tenaga kerja langsung dan unit output.karena, banyak
sumber daya overhead yang digunakan dalam proporsi tidak sama dengan unit
output yang diproduksi, sistem tradisional menyebabkan pengukuran biaya
aktivitas pendukung yang digunakan oleh produk atau jasa individual menjadi
tidak akurat. Sistem ABC berbeda dari sistem penentuan biaya tradisional dengan
membuat model pemakaian sumber daya perusahaan untuk aktivitas yang dilakukan
dan menghubungkan biay aaktivitas ono ke pbyek biaya seperti produk atau jasa.
Sistem ABC mengukur biaya aktivitas yang tidak mempunyai hubungan proporsional
dengan volume output secara lebih akurat. Dalam sistem penentuan biaya
tradisional, biaya overhead pabrik dibebankan ke pabrik atau cost pool
departemental atau pusat biaya dan kemudian ke output produksi.
Dengan sistem ABC,
alokasi tahap pertama adalah proses pembebanan biaya sumber daya, yaitu biaya
overhead pabrik dibebankan ke cost pool aktivitas atau kelompok aktivitas yang
disebut pusat aktivitas (activity center) yang tepat. Pemicu aktivitas mengukur
berapa banyak akyivitas digunakan oleh obyek biaya.
Sistem
ABC berbeda dari sistem biaya tradisional, khususnya di dalam dua hal.
a. Pusat
biaya atau cost pool didefinisikan sebagai aktivitas atau pusat aktivitas dan
bukan sebagai pabrik atau pusat biaya departemen.
b. Pemicu
biaya atau cost driver yang digunakan untuk membebankan biaya aktivitas ke
obyek adalah pemicu (driver) aktivitas yang mendasarkan pada hubungan sebab
akibat.Pendekatan tradisional menggunakan pemicu tunggal yang mendasarkan pada
volume yang seringkali tidak melihat hubungan antara biaya sumber daya dengan
obyek biaya.
Modifikasi
ini menyebabkan prosedur dua tahap ABC melaporkan biaya aktivitas yang berbeda
secara lebih akurat debandingkan dengan sistem tradisional. Karena, sistem
tersebut mengidentifikasikan secara jelas biaya dari aktivitas yang
berbeda-beda yang ada diperisahaan. Sistem tersebut juga membebeankan biaya
akktivitas ke obyek biaya output dengan menggunakan ukuran yang dapat menunkukan
permintaan produk atau jasa terhadap aktivitas tersebut.
Ilustrasi
berikut, mungkin akan dapat memperjelas keterangan tentang ABC tersebut diatas.
PT. KFC memproduksi 2 macam produk, yang
diberi kode KF dan FC. Taksiran biaya yang berkaitan dengan proses produksi
kedua produk tersebut adlah sebagai berikut:
Keterangan
|
KF
|
FC
|
Unit
yang diproduksi
|
10.000
unit
|
20.000
unit
|
Jam
tenga kerja langsung per unit produk
|
4
jam
|
2
jam
|
Jam
kerja mesin per unit produk
|
2
jam
|
4
jam
|
Kebutuhan
bahan per unit produk
|
2
kg
|
1
kg
|
Harga
bahan langsung per kg
|
Rp.
20.000,00
|
Rp.
10.000,00
|
Upah
tenaga kerja langsung per jam
|
Rp.
5.000,00
|
Rp.
5.000,00
|
Biaya overhead menurut
kelompok aktivitas dan pemicu biaya aktivitas (cost driver activity) pada
periode tersrbut adalah sebagai berikut:
Kelompok aktivitas
|
Biaya aktivitas
|
Pemicu biaya
aktivitas
|
a. Tenaga
listrik
|
Rp.
40.000.000,00
|
Jam
kerja langsung
|
b. Pemeliharaan
|
Rp.
70.000.000,00
|
Jam
kerja mesin
|
c. Penanganan
material
|
Rp.
60.000.000,00
|
Banyaknya
bahan
|
d. Inspeksi
|
Rp.
30.000.000,00
|
Unit
produksi
|
Total
|
Rp.
200.000.000,00
|
Berdasarkan data
tersebut diatas, jika dihitung biaya produksi perunit untuk masing-masing
produk dengan metode konvensional atau tradisional, dimana biaya overhead
pabrik dibebankan dengan tariff berdasarkan jam kerja langsung akan
menghasilkan jumlah sebagai berikut.
Biaya
bahan baku langsung
Produk
|
Kebutuhan/produk
|
Harga
|
Biaya/unit produk
|
KF
|
2
kg
|
Rp.
20.000,00
|
Rp.
40.000,00
|
FC
|
1
kg
|
Rp.
10.000,00
|
Rp.
10.000,00
|
Setiap unit KF
membutuhkan 2 kg bahan baku dengan harga Rp. 20.000,00 per kg, sedangkan setiap
1 unit FC membutuhkan 1 kg bahan baku dengan harga Rp. 10.000,00 per kg. maka,
biaya bahan baku perunit KF adalah sebesar Rp. 40.000,00 dan sebesar Rp.
10.000,00 perunit FC.
Biaya
Tenaga Kerja Langsung
Produk
|
JKL per unit produk
|
Upah / JKL
|
Biaya / Unit Produk
|
KF
|
4 jam
|
Rp 5.000,00
|
Rp 20.000,00
|
FC
|
2 jam
|
Rp 5.000,00
|
Rp 10.000,00
|
Setiap
unit KF membutuhkan 2 JKL (jam kerja langsung) dengan upah sebesar Rp 5.000,00
per JKL, sedangkan setiap 1 unit FC membutuhkan 2 JKL dengan upah Rp 5.000,00
per JKL. Maka, biaya tenaga kerja langsung per unit KF adalah sebesar Rp
20.000,00 dan sebesar Rp 10.000,00 per unit FC.
Biaya
Overhead yang dikeluarkan untuk
memproduksi seluruh produk tersebut adalah sebesar Rp 200.000,00. Dimana dasar
penetapan biaya overhead adalah
berdasarkan jam kerja langsung (JKL), sedangkan jumlah jam kerja langsung yang
diperlukan untuk menghasilkan 10.000 unit KF dan 20.000 unit FC adalah sebesar
40.000 JKL (20.000 unit x 2 JKL) untuk FC. Atau total sebesar 80.000 JKL. Itu
berarti tariff biaya overhead pabrik dibebankan sebesar Rp 200.000.000,00 :
80.000 JKL = Rp 2.500,00 per JKL. Dengan tarif biaya overhead sebesar Rp 25.000,00 per JKL maka biaya overhead yang dibebabnkan kepada setiap
unit produk adalah sebagai berikut:
Produk
|
JKL per unit produk
|
Tarif / JKL
|
Biaya / Unit Produk
|
KF
|
4 jam
|
Rp
2.500,00
|
Rp 10.000,00
|
FC
|
2 jam
|
Rp
2.500,00
|
Rp 5.000,00
|
Dengan
perhitungan seperti di atas maka besarnya biaya produksi per unit produk dengan
metode biaya tradisional atau konvensional adalah sebagai berikut:
Jenis biaya
|
KF
|
FC
|
Biaya Bahan Baku
|
Rp 40.000,00
|
Rp 10.000,00
|
Biaya Tenaga Kerja
Langsung
|
Rp 20.000,00
|
Rp 10.000,00
|
Biaya Overhead Pabrik
|
Rp 10.000,00
|
Rp
5.000,00
|
Biaya Produksi Per
Unit Produk
|
Rp 70.000,00
|
Rp 25.000,00
|
Jika
biaya overhead yang dikeluarkan oleh
PT. KFC tersebut di atas dihitung dengan menggunakan metode activity based costing maka akan
menghasilkan alokasi sebagai berikut:
Kelompok Aktivitas
|
Biaya Aktivitas
|
Pemicu Biaya Aktivitas
|
Tarif Persatuan
|
a. Tenaga Listrik
|
Rp
40.000.000,00
|
80.000 jam kerja
langsung
|
Rp 500,00/ jkl
|
b. Pemeliharaan
|
Rp
70.000.000,00
|
100.000 jam kerja
mesin
|
Rp 700,00 / jkm
|
c. Penanganan Material
|
Rp
60.000.000,00
|
40.000 banyaknya bahan
|
Rp 1.500,00 / kg bahan
|
d. Inspeksi
|
Rp
30.000.000,00
|
30.000 unit produksi
|
Rp 1.000,00 / unit produk
|
Total
|
Rp 200.000.000,00
|
||
Jumlah
jam kerja langsung yang diperlukan untuk menghasilkan 10.000 unit KF dan 20.000
unit FC adalah sebesar 40.000 JKL untuk FC (10.000 unit x 4 JKL) dan sebesar
40.000 JKL (20.000 unit x 2 JKL) untuk FC. Atau total sebesar 80.000 JKL.
Jumlah
jam kerja mesin (JKM) yang diperlukan untuk setiap unit KF adalah sebesar 2 JKM
maka total JKM yang dibutuhkan untuk memproduksai 10.000 unit KF adalah sebesar
20.000 JKM (2 JKM x 10.000 unit), sedangkan jumlah jam kerja mesin (JKM) yang
diperlukan untuk setiap FC adalah sebesar 4 JKM maka total JKM yang dibutuhkan
untuk memproduksi 20.000 unit FC adalah sebesar 80.000 JKM (4 JKM x 20.000
unit). Maka, total JKM yang diperlukan untuk memproduksi kedua produk tersebut
adalah sebesar 100.000 JKM.
Setiap
unit KF membutuhkan 2 kg bahan baku maka bahan baku total yang dibutuhkan untuk
memproduksi 10.000 unit produk adalah sebesar 20.000 kg bahan baku, sedangkan
setiap FC membutuhkan 1kg bahan baku, maka bahan baku total yang dibutuhkan
untuk memproduksi 20.000 unit produk adalah sebesar 20.000 kg bahan baku.
Berarti, bahan baku yang dibutuhkan untuk memproduksi kdeua produk tersebut
adalah sebesar 40.000 kg bahan baku.
Selain itu, biaya
inspeksi total adalah sebesar Rp 30.000.000,00 sedangkan produk yang dihasilkan
adalah sebesar 30.000 unit produk (10.000 unit KF dan 20.000 unit FC) maka
biaya inspeksi yang dialokasikan adalah sebesar Rp 1.000,00 per unit produk.
Berdasarkan
pemicu biaya dari setiap kelompok aktivitas di dalam biaya overhead tersebut diatas, diketahui bahwa besarnya tariff Rp 500,00
per jam kerja langsung untuk aktivitas tenaga listrik (Rp 40.000.000,00 :
80.000 JKL) dan sebesar Rp 700,00 per jam kerja mesin (Rp 70.000,00 :100.000
JKM), sebesar Rp 1.500,00 per kg bahan baku (Rp 60.000,00 : 40.000 kg bahan) serta
sebesar Rp 1.000,00 per unit produk (Rp 30.000.000,00 : 30.000 unit produk).
Kelompok Aktivitas
|
Tarif Persatuan
|
Alokasi Biaya Per
Produksi
|
|
KF
|
FC
|
||
a. Tenaga Listrik
|
Rp 500,00 / jkl
|
Rp
2.000,00
|
Rp
1.000,00
|
b. Pemeliharaan
|
Rp 700,00 / jkm
|
Rp
1.400,00
|
Rp
2.800,00
|
c. Penanganan Material
|
Rp 1.500,00 / kg bahan
|
Rp
3.000,00
|
Rp
1.500,00
|
d. Inspeksi
|
Rp 1.000 / unit produk
|
Rp
1.000,00
|
Rp
1.000,00
|
Total
|
Rp
7.400,00
|
Rp
6.300,00
|
|
Karena,
setiap unit KF membutuhkan 4 JKL maka biaya tenaga listrik yang dialokasikan
untuk KF adalah sebesar Rp 2.000,00 per unit KF (Rp 500,00 x 4 JKL), sedangkan
setiap unit FC membutuhkan 2 JKL maka biaya tenaga listrik yang dialokasikan
untuk FC adalah sebesar Rp 1.000,00 per unit KF (Rp 500,00 x 2 JKL).
Karena
setiap unit KF membutuhkan 2 JKM maka biaya pemeliharaan yang dialokasikan
untuk KF adalah sebesar Rp 1.400,00 per unit KF (Rp 700,00 x 2 JKM), sedangkan
setiap unit FC membutuhkan 4 JKM maka biaya pemeliharaan yang dialokasikan
untuk FC adalah sebesar Rp 2.800,00 per unit KF (Rp 700,00 x 4JKM).
Karena
setiap unit KF membutuhkan 2 kg bahan maka biaya penaganan material yang
dialokasikan untuk KF adalah sebesar Rp 3.000,00 per unit KF (Rp 1.500,00 x 2
kg), sedangkan setiap unit FC membutuhkan 1 kg bahan maka biaya penaganan
material yang dialokasikan untuk FC adalah sebesar Rp 1.500,00 per unit KF (Rp
1.500,00 x 4JKM).
Dengan
alokasi biaya overhead per unit
produk seperti terlihat dalam daftar di atas maka biaya produksi untuk setiap
unit produk dengan metode activity based
costing adalah sebagai berikut ini:
Jenis Biaya
|
KF
|
FC
|
Biaya Bahan Baku
|
40.000,00
|
10.000,00
|
Biaya Tenaga Kerja
Langsung
|
20.000,00
|
10.000,00
|
Biaya Overhead Pabrik
|
7.400,00
|
6.300,00
|
Biaya Produksi Per
Unit Produk
|
67.400,00
|
26.300,00
|
Jika
dibuat table perbandingan biaya produksi menurut metode tradisional dan metode ABC, akan terlihat sebagai berikut:
jenis biaya
|
Tradisional
|
ABC
|
||
KF
|
FC
|
KF
|
FC
|
|
biaya bahan baku
|
40.000,00
|
10.000,00
|
40.000,00
|
10.000,00
|
biaya tenaga kerja
langsung
|
20.000,00
|
10.000,00
|
20.000,00
|
10.000,00
|
biaya overhead pabrik
|
10.000,00
|
5.000,00
|
7.400,00
|
6.300,00
|
biaya produksi per
unit produk
|
70.000,00
|
25.000,00
|
67.400,00
|
26.300,00
|
Dari
tabel perhitungan di atas, terlihat bahwa perbedaan pokok antara metode tradisional
dan metode ABC terletak pada alokasi biaya overhead,
sedangkan biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung akan menghasilkan
alokasi biaya yang sama, untuk kedua metode. Metode tradisional menetapkan
biaya produksi sebesar Rp70.00,00 per unit KF dan sebesar Rp25.000,00 per unit
FC , sedangkan sistem ABC menetapkan biaya produksi sebesar Rp67.400,00 per
unit KF dan sebesar Rp26.300,00 per unit FC. Jadi, terjadi perubahan di dalam
biaya produksi per unit untuk kdeua produk tersebut.
Dengan sitem tradisional, PT. KFC
mungkin menetapkan harga jual sebesar Rp71.000,00 per unit KF dan sebesar Rp26.000,00
per unit FC, karena tingkat persaingan yang ketat. Dengan demikian, perusahaan
memperoleh laba kotor sebesar RP1.000,00 per unit produk. Jika PT.KFC dalam
tingkat kompetisi yang sangat ketat maka dengan sistem ABC perusahaan dapat
menetapkan harga jual sebesar Rp70.000,00 per unit KF dan sebesar Rp27.000,00
per unit FC.
9.3 Kapan sistem ABC diperlukan?
Jika
perusahaan menghadapi persaingan yang sangat ketat dengan para pesaingnya dan
penetapan harga jual akan sangat berpengaruh pada keunggulan bersaing maka
penggunaaan system ABC akan sangat diperlukan. Karena, sistem ABC menghasilkan
penetapan biaya produksi yang lebih akurat dibanding dengan sistem tradisional
maka dapat menolong perusahaan dalam mengelola keunggulan kompetitif yang dimilikinya.
Dengan kemampuan menentukan biaya produksi yang lebih akurat maka penentuan
harga jual per jenis produk pun akan
lebih tepat, sehingga perusahaan tidak salah menetapkan harga jual yang komptetitif
untuk suatu jenis produk tertentu.
Jika perusahaan memiliki diversitas
produk yang sangat tinggi dalam hal volume, ukuran, dan kompleksitas produk maka
penggunaan sistem ABC akan sangat bermanfaat.
Terutama jika biaya untuk mengimplementasikannya lebih rendah dibanding dengan
manfaatnya
Daftar
pustaka :
Rudiyanto,.Akuntansi
Manajemen
