|
Nama
Jurnal
|
Jurnal Dinamikan Ekonomi & Bisnis
|
|
Volume
/ Halaman
|
Vol. 2 No. 1 Halaman 35 - 44
|
|
Judul
Jurnal
|
EKSPOSURE TRANSLASI AKUNTANSI
PERKEMBANGAN DAN DAMPAKNYA BAGI NEGARA-NEGARA ASIA
|
|
Nama
Penulis
|
Fitri Ella Fauziah dan Murharsito
|
|
Tanggal
Jurnal
|
Maret 2005
|
|
Download
|
|
|
Tujuan
Penelitian
|
-
|
|
Metode
Penelitian
|
-
|
|
Variabel
Penelitian
|
-
|
|
Hasil
Penelitian
|
Perkembangan perekonomian yang begitu
pesat ditandai dengan munculnya perusahaan-perusahaan multinasional
corporation (MNCs) baik dinegara Eropa maupun di Asia yang membutuhkan
translasi akuntansi untuk menyamakan laporan konsolidasi antara anak
perusahaan dengan induk perusahaan (parent). Exposure translasi mencerminkan
exposure laporan keuangan konsolidasi sebuah MNC terhadap pergerakan nilai
tukar. Translasi laporan keuangan untuk tujuan konsolidasi tidak mempengaruhi
arus kas perusahaan multinasional, Karena hal inilah sejumlah analis
menyatakan bahwa exposure translasi tidak relevan. Sedangkan analis-analis
yang lain berpendapat bahwa Karena laporan keuangan konsolidasi mencerminkan
kinerja sebuah perusahaan multinasional, maka exposure translasi menjadi
relevan. Sejak penerimaan perusahaan mempengaruhi harga saham, maka banyak
MNCs yang memberikan perhatian terhadap exposure translasi. Sekalipun
exposure translasi ini tidak mempengaruhi aliran kas perusahaan, namun banyak
investor yang cenderung bereaksi negative apabila terjadi perbedaan dalam
laporan penerimaan perusahaan dan salah satunya adalah laporan penerimaan
konsolidasi. Oleh Karena itulah maka banyak MNCs yang kemudian memperhatikan
exposure translasi. Exposure translasi tergantung pada derajat pengaruh asing
yang meliputi cabang-cabang asing. Negara lokasi cabang-cabang tersebut dan
metode akuntansi yang digunakan. Sehubungan dengan fluktuasi nilai tukar pada
awal tahun 1970an, maka diadakan penelitian yang dirumuskan dalam Financial
Accounting of Standards Board (FASB). Untuk selanjutnya hasilnya tertuang
dalam FASB 8. Setelah diberlakukan ternyata FASB 8 ini menuai banyak
kritikan, untuk selanjutnya diadakan sebuah penelitian yang menghasilkan FASB
52. Perbedaan inti pada FASB 52 ini adalah bahwa nilai kekayaan asing yang tidak
disimpan dalam mata uang fungsional, akan dinilai ulang pada mata uang
fungsional sesuai dengan translasi yang diutamakan. Pada FASB 52 meminta
semua aktiva dan kwajiban diukur memakai kurs berjalan, maka distorsi yang
diakibatkan oleh exposure translasi tidak lagi muncul. Menurut FASB 52
keuntungan dan kerugian translasi tidak dimasukan dalam laporan laba rugi
namun dalam ekuitas pemegang saham, pada perkiraan penyesuaian translasi
kumulatif. Hal ini diharapkan akan mengurangi variabilitas dari laba bersih
pasca konsolidasi, Karena hanya perubahan-perubahan actual dari laba bersih
yang akan dicatat dalam laporan laba rugi. FASB 52 mampu mengurangi exposure
sebuah MNCs terhadap risiko translasi, walaupun tidak menghilangkannya secara
total. Perkiraan ekuitas pemegang saham meningkat akibat keuntungan translasi
atau menurun akibat kerugian translasi. Jadi rasio-rasio keuntungan seperti
pengembalian atas ekuitas (laba bersih/ekuitas) dan rasio ungkitan atau
leverage (hutang/ekuitas) dipengaruhi oleh keuntungan atau kerugian
translasi.
|
|
Kesimpulan
|
Perkembangan perekonomian yang begitu
pesat ditandai dengan munculnya perusahaan-perusahaan multinasional
corporation (MNCs) baik di negara Eropa maupun di Asia yang membutuhkan
translasi akuntansi untuk menyamakan laporan konsolidasi antara anak
perusahaan dengan induk perusahaan (parent). Exposure translasi mencerminkan
exposure laporan keuangan konsolidasi sebuah MNC terhadap pergerakan nilai
tukar. Untuk mengukur exposure translasi, perusahaan-perusahaan multinasional
dapat memprediksi laba dalam masing-masing valuta asing, dan kemudian
menentukan dampak potensial dari pergerakan nilai tiap valuta asing terhadap
valuta negara asal mereka. Exposure translasi tergantung pada derajat
pengaruh asing yang meliputi cabang-cabang asing.
|
|
Pendapat
Mengenai Jurnal
|
Risiko dari adanya exposure translasi
harus ditanggulangi dengan melakukan perbaikan dalam peraturan-peraturan yang
terkait dengan akuntansi.
Jurnal tersebut sudah bagus
penjelasannya hanya saja dalam jurnal tersebut informasinya masih kurang
lengkap, yaitu tidak memuat tujuan,
metode dan variable yang digunakan.
|
news studentsite
Senin, 01 Mei 2017
Review Jurnal 6 ( Transaksi Mata Uang Asing )
Minggu, 30 April 2017
Review Jurnal ke 5 ( Pelaporan dan Pengungkapan )
|
Judul Jurnal
|
PENERAPAN IFRS DAN HUBUNGANNYA
DENGAN KOMPARABILITAS PENGUNGKAPAN ASET TETAP PADA LAPORAN KEUANGAN
PERUSAHAAN
|
|
Volume / Halaman
|
Volume
11/No. 1/ November 2014 : 83 - 102
|
|
Nama Penulis
|
Ardian
Setianto dan Agung Juliarto
|
|
Tahun
Jurnal
|
2014
|
|
Download
|
|
|
Tujuan Penelitian
|
Tujuan dari penelitian ini adalah
untuk menganalisis pelaksanaan IFRS dan hubungannya dengan komparabilitas
pengungkapan aktiva tetap atau sekarang disebut PPE (Property, Plant, dan
Peralatan) dalam laporan keuangan. Variabel yang digunakan dalam penelitian
ini adalah penerapan IFRS yang berfokus pada perbandingan pengungkapan APD.
|
|
Metode Penelitian
|
Jenis penelitian ini merupakan
penelitian empiris dengan melakukan analisis pada perusahaan manufaktur yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2011-2013. Data dikumpulkan dengan menggunakan
metode purposive sampling dan 327 data observasi dianalisis. Pengujian
hipotesis dalam penelitian ini digunakan analisis regresi berganda dengan
SPSS Rilis 20, yaitu pengambilan sampel dari
populasi berdasarkan kriteria tertentu, dengan menggunakan perhitungan
Struktur Aset, ROA (Return on Assets) dan Leverage. Menggunakan Statistik
Deskriptif, Uji Normalitas, Uji Multikolinearitas, Uji Autokorelasi, Uji
Heteroskedastisitas dan Uji Hipotesis Pengujian.
|
|
Variabel Penelitian
|
Variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini
adalah tingkat pengungkapan aset tetap. Variabel independen yang digunakan
dalam penelitian ini yaitu dengan mengukur
tingkat pengungkapan awal atau Initial High Disclosure
(IDH). Variabel interaksi penelitian ini menginteraksikan antara IDH dengan
periode penerapan IFRS. Periode penerapan IFRS diukur dengan menggunakan
variabel dummy.
Variabel control, ukuran perusahaan yaitu besar kecilnya
perusahaan dilihat dari besarnya nilai ekuitas, nilai penjualan atau nilai
total aktiva (Riyanto, 1998).
|
|
Hasil Penelitian
|
Populasi dalam penelitian ini
adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI pada tahun 2011-2013 yaitu
berjumlah 139 perusahaan. Perusahaan yang menyediakan laporan keuangan untuk
tahun 2011-2013 serta memenuhi kriteria sampel yaitu sebanyak 109 perusahaan
per tahun. Total data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 327
pengamatan (109 perusahaan x 3 tahun).
Nilai rata-rata (mean) DISCL
adalah 0,5224 yang berarti dalam satu periode laporam keuangan, perusahaan
telah mengungkapkan sebanyak 52,24% item pengungkapan aset tetap konvergensi
IFRS.
Pada tabel 4., 327 pengamatan yang
diolah menunjukkan bahwa 205 perusahaan atau sebesar 62,7% perusahaan sampel
memiliki selisih indeks pengungkapan perusahaan yang bersangkutan dengan
indeks pengungkapan perusahaan terbaik lebih besar dari median. Adapun
kondisi sebaliknya ditunjukkan oleh 112 perusahaan atau sebesar 37,3%
perusahaan sampel.
Uji
Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk
mendeteksi apakah dalam model regresi distribusi data normal atau tidak,
dapat dilihat pada grafik normal probability plot yang membandingkan
distribusi kumulatif data normal.
Uji
Multikolinieritas
Dari tabel dapat diketahui bahwa
nilai tolerance semua variabel mendekati angka 1 dan nilai VIF tidak lebih
dari 10, sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam model regresi tidak terdapat
multikolinearitas dan model regresi layak untuk dipakai.
Uji
Heteroskedastisitas
Dari gambar grafik scatterplot
diatas terlihat bahwa titik-titik menyebar secara acak diatas maupun dibawah
angka 0 pada sumbu Y. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model regresi
ini tidak terjadi heteroskedastisitas.
Uji
Autokorelasi
Berdasarkan hasil analisis
diperoleh nilai Durbin-Watson sebesar 1,799.
Nilai sigifikansi tersebut berada antara dU (1,7616) dan 4 – dU yaitu
2,2384. Dengan demikian menunjukkan bahwa model regresi tersebut sudah bebas
dari masalah autokorelasi.
Analisis
Regresi
Berdasarkan hasil uji analisis
regresi linier di atas, maka diperoleh persamaan regresi sebagai berikut :
DISCL = 0,445 + 0,92(IDH) +
0,28(IFRS1) + 0,33(IFRS2) – 0,30(IDH*IFRS1) – 0,38(IDH*IFRS2) + 0,001(SIZE) +
0,14(ROA) + 0,002(LnSCALEDB) + 0,000 LnLEV + e
Uji
Hipotesis
Koefisien
Determinasi (R2)
Pada tabel 8 menunjukkan bahwa
nilai koefisien determinasi yang ditunjukkan dari nilai adjusted R2 sebesar
0,775. Hal ini berarti bahwa 77,5% variasi indeks pengungkapan aset tetap
dapat dijelaskan secara signifikan oleh variabel independen yang digunakan
dalam penelitian ini yaitu IDH, variabel interaksi IDH*IFRS1, IDH*IFRS2 dan
dikontrol oleh SIZE, LnSCALEDB, ROA, LnLEV. Sedangkan sisanya sebesar 22,5%
indeks pengungkapan aset tetap dapat dijelaskan oleh variabel lainnya di luar
model.
Uji
Signifikansi Simultan (Uji Statistik F)
Hasil pengolahan data dari tabel
di atas menunjukkan bahwa nilai F sebesar 125,877 dengan nilai probabilitas
sebesar 0,000 lebih rendah dari 0,05. Hal tersebut berarti bahwa model
regresi dalam penelitian ini dapat digunakan.
Hasil Pengujian Tingkat
Komparabilitas Pengungkapan Aset Tetap Berdasarkan kedua hasil pengujian
hipotesis yang telah diterangkan di atas bahwa nilai signifikansi kedua
variabel interaksi (0,000 dan 0,000) lebih kecil dari 0,05 dan nilai
koefisien variabel interaksi yang semakin negatif dari tahun ke tahun
(IDH*IFRS1= -3,735 dan IDH*IFRS2=
-4,721) maka dengan demikian disimpulkan bahwa Hipotesis diterima.
Hasil pengujian hipotesis
menunjukkan bahwa hasil uji variabel interaksi antara indeks pengungkapan
awal aset tetap perusahaan dengan periode penerapan IFRS tahun pertama dan
periode penerapan IFRS tahun kedua memiliki pengaruh yang signifikan negatif
terhadap tingkat pengungkapan aset tetap. Hasil ini menunjukkan bahwa seiring
berjalannya penerapan konvergensi IFRS ke dalam PSAK terbaru, perbedaan
tingkat pengungkapan aset tetap pada laporan keuangan perusahaan semakin
berkurang.
Alasan mendasar atas hal ini yang
pertama adalah, dengan PSAK terbaru konvergensi IFRS, perusahaan semakin
dituntut untuk mengungkapkan informasi yang lebih luas sesuai dengan
persyaratan yang diwajibkan dalam standar akuntansi di Indonesia terbaru.
Kedua, walaupun perusahaan dituntut untuk mengungkapkan informasi yang lebih
luas, namun seiring berjalannya waktu, perusahaan semakin memahami apa yang
diinginkan oleh IFRS. Sehingga, dengan PSAK terbaru konvergensi IFRS,
perbedaan laporan keuangan antar perusahaan semakin kecil. Hal ini yang
kemudian membuat laporan keuangan konvergensi IFRS semakin dapat
dibandingkan.
|
|
Kesimpulan
|
Hasil pengujian hipotesis
menunjukkan bahwa variabel interaksi antara indeks pengungkapan awal aset
tetap perusahaan (IDH) dengan periode penerapan IFRS tahun pertama (IFRS1)
dan periode penerapan IFRS tahun kedua (IFRS2) memiliki pengaruh yang signifikan negatif
terhadap tingkat pengungkapan aset tetap. Hal ini menunjukkan bahwa
komparabilitas pengungkapan aset tetap pada laporan keuangan perusahaan
menjadi semakin kecil seiring berlakunya konvergensi IFRS dari waktu ke
waktu.
Oleh para penyusunnya, IASB, IFRS
dirancang untuk menjadi standar akuntansi yang berlaku secara global.
Akibatnya IFRS menjadi lebih fleksibel dan memberi keleluasaan pada akuntan
untuk menggunakan pertimbangan profesional (professional judgement). Hal
inilah yang menjadi kekhawatiran bahwa dengan IFRS justru akan mempersulit
komparabilitas laporan keuangan dan menyuburkan manipulasi laporan keuangan.
Penelitian ini telah membuktikan bahwa kekhawatiran akan berkurangnya tingkat
keterbandingan (comparability) sebagai dampak berubahnya PSAK konvergensi
IFRS yang kini bersifat principle-based
tidak terbukti.
|
|
Saran Penelitian
|
1. Perluasan objek
penelitian dengan meneliti elemen laporan keuangan secara keseluruhan, tidak
hanya berfokus pada PSAK No.16: Aset Tetap dan dapat menggunakan sampel
perusahaan yang lebih luas lagi sehingga hasilnya lebih dapat
digeneralisasikan.
2. Dalam mengukur variabel
pengungkapan aset tetap dapat dilakukan dengan melibatkan lebih dari satu
orang, untuk meminimalisasi unsur subjektifitas dalam proses interpretasi
disclosure checklist.
3. Untuk mengidentifikasi
item-item pengungkapan dapat menggunakan checklist berdasarkan peraturan yang
berlaku lainnya atau dapat mengembangkan sendiri. Sebab checklist yang
berbeda dapat memberikan hasil penilaian yang berbeda pula. Hal ini dapat
digunakan untuk menguji konsistensi hasil penelitian dalam skripsi ini.
4. Penggunaan periode
penelitian yang lebih panjang di tahun yang akan datang, sehingga hasil
penelitian lebih akurat.
|
|
Pendapat Mengenai Jurnal
|
Komparabilitas laporan keuangan
sangatlah penting sebagai konsekuensi pengadopsian IFRS maka sebaiknya
diperlukan pengungkapan laporan keuangan yang luas tidak hanya berfokus pada
PSAK No. 16 tetapi dapat menggunakan sampel perusahaan yang lebih luas lagi
sehingga hasilnya dapat digeneralisasikan, dan dapat melibatkan lebih dari
satu orang sehingga dapat meminimalisasi unsur subjektifitas dalam proses
interpretasi disclosure checklist. Selain itu dapat menggunakan periode
penelitian yang lebih panjang sehingga hasil penelitian lebih akurat.
|
Rabu, 29 Maret 2017
Review Jurnal ke 4 ( Jurnal EMBA )
|
Riview Jurnal Akuntansi Komparatif Amerika dan Asia
|
|
|
Nama Jurnal
|
Jurnal EMBA
|
|
Volume/Halaman
|
Vol. 4 No. 1 Maret 2016, Hal. 676-687
|
|
Judul Jurnal
|
Analisis pengungkapan informasi aset keuangan berdasarkan
PSAK 60 pada PT. Bank Central Asia Tbk
|
|
Nama Penulis
|
Monica Supriyadi dan Herman Karamoy
|
|
Tanggal Jurnal
|
Maret 2016
|
|
Download
|
ANALISIS%20PENGUNGKAPAN%20INFORMASI%20ASET%20KEUANGAN
%20%20BERDASARKAN%20PSAK%2060%20PADA%20PT.%20BANK%20
CENTRAL%20ASIA%20TBK
|
|
Tujuan Penelitian
|
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian
pengungkapan informasi aset keuangan Bank BCA dengan PSAK No. 60
|
|
Metode Penelitian
|
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif
kualitatif. Penelitian dilakukana pada kondisi yang alamiah langsung ke
sumber data, pengumpulan data mnggunakan instrument penelitian, dan data yang
terkumpul berupa sejarah perusahaan, visi dan misi perusahaan, struktur
organisasi, aktivitas usaha, dan laporan keuangan yang terangkum dalam
laporan tahuhnan PT. Bank Central Asia Tbk
|
|
Variabel Penelitian
|
Laporan posisi keuangan, Laporan laba rugi dan penghasilan
komperhensif lain dan sifat dan cakupan resiko yang timbul dari instrument
keuangan
|
|
Hasil Penelitian
|
Secara umum,
PT. Bank Central Asia Tbk telah menerapkan PSAK No. 60 tentang pengungkapan
instrumen keuangan. Dalam PSAK ini diatur bagaimana pengungkapan instrumen
keuangan dalam laporan keuangan. PSAK 60 (2014) mensyaratkan pengungkapan
mengenai instrumen keuangan yaitu aset dan liabilitas keuangan pada Laporan
Posisi Keuangan, Laporan Laba Rugi Komprehensif, dan Catatan Atas Laporan
Keuangan. Pengungkapan yang dilakukan BCA mengenai aset keuangan dan
liabilitas keuangan yang diungkapkan pada Laporan Posisi Keuangan, Laporan
Laba Rugi Komprehensif, dan Catatan Atas Laporan Keuangan menjelaskan
bagaimana kategori aset dan liabilitas keuangan tersebut diukur dan bagaimana
pendapatan dan beban, termasuk laba dan rugi atas nilai wajar (perubahan
nilai wajar instrumen keuangan) diakui. PSAK 60 mensyaratkan setiap poin-poin
yang harus diungkapkan mengenai instrumen keuangan dalam laporan keuangan.
Bank BCA telah mengungkapkan setiap poin-poin dan terdapat beberapa poin yang
belum diungkapkan secara jelas oleh perusahaan. Bank BCA tidak mengungkapkan
instrumen keuangan majemuk dengan beberapa derivatif melekat, gagal bayar dan
pelanggaran, dan akuntansi lindung nilai dalam Catatan Atas Laporan Keuangan
(CALK) perusahaan.
PSAK 60
mensyaratkan pengungkapan mengenai gagal bayar dan pelanggaran, yaitu rincian
gagal bayar selama periode, jumlah tercatat pinjaman diterima yang mengalami
gagal bayar pada akhir periode pelaporan, dan perbaikan gagal bayar atau
negoisasi ulang sebelum laporan keuangan diotorisasi untuk terbit. BCA
mengungkapkan jumlah pinjaman yang diterima mengenai kredit likuiditas dari
BI masih dalam proses penutupan perjanjian dan pinjaman dari bank-bank lain
yang akan jatuh tempo tahun 2015 pada akhir periode 31 Desember 2014 dan 2013
dijaminkan dengan piutang pembiayaan konsumen. PSAK 60 mensyaratkan entitas
mengungkapkan setiap jenis lindung nilai yang dideskripsikan dalam PSAK 55:
Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran (yaitu lindung nilai atas nilai
wajar, lindung nilai atas arus kas, dan lindung nilai atas investasi neto
pada kegiatan usaha luar negeri). BCA tidak mengungkapkan secara jelas mengenai
akuntansi lindung nilai. Jika instrumen derivatif sesuai dengan definisi
lindung nilai sebaiknya perusahaan mengungkapan setiap uraian jenis lindung
nilai tersebut. Diungkapkan bahwa entitas anak melakukan kontrak derivatif
untuk mengelola resiko perubahan nilai tukar valuta asing. Dari pengungkapkan
tersebut perusahaan berusaha untuk memimalkan resiko yang akan timbul, yang
mengarah ke tujuan lindung nilai. Perusahaan diharapkan dapat
mengklasifikasikan instrumen derivatif sebagai spekulatif atau lindung nilai
agar pengguna laporan keuangan tidak salah interpretasi dalam memahami
pengungkapan yang dilakukan perusahaan. PSAK 60 mensyaratkan entitas
mengungkapkan keberadaan fitur penerbitan instrumen yang mengandung komponen
liabilitas dan ekuitas dan instrumen tersebut memiliki beberapa derivatif melekat
yang nilainya saling tergantung satu sama lain. Perusahaan tidak
mengungkapkan adanya keberadaan fitur instrumen keuangan majemuk dengan
beberapa derivatif melekat. Pada tanggal 31 Desember 2014 dan 2013, tidak ada
instrumen keuangan yang berpotensi menjadi saham biasa. Oleh karena itu, laba
per saham dilusian sama dengan laba per saham dasar. Dari pengungkapan
tersebut dapat diketahui bahwa tidak adanya instrumen keuangan yang mempunyai
karakteristik liabilitas dan ekuitas.
Penelitian ini
membahas mengenai penerapan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.
60 tentang pengungkapan instrumen keuangan. Bila dibandingkan dengan
penelitian sebelumnya maka terdapat persamaan dalam pembahasan pengungkapan
instrumen keuangan. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Longgorung
(2015) yang dalam hasil penelitiannya menganalisis kesuaian pengungkapan instrumen
keuangan perusahaan dengan PSAK 60. Penelitian ini meneliti objek penelitan
PT. Bank Central Asia Tbk. Dibandingkan dengan penelitian ini, hasil
penelitian Pulumbara (2014) menjelaskan bahwa PT. Bank Central Asia Tbk telah
mengacu pada PSAK 50 dan PSAK 55, standar akuntansi mengenai isntrumen
keuangan. Terdapat persamaan bahwa objek yang diteliti telah mengacu dan
menerapkan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) mengenai instrumen keuangan.
|
|
Kesimpulan
|
Kesimpulan
dari penelitian ini yaitu pengungkapan atas instrumen keuangan PT. Bank
Central Asia Tbk masih mengacu pada PSAK 60 Revisi 2010. Namun dari uraian
pembahasan yang telah dipaparkan, aset keuangan dan liabilitas keuangan,
pengungkapan lain serta sifat dan cakupan resiko yang timbul dari instrumen
keuangan yang diungkapkan dan disajikan pada Laporan Posisi Keuangan, Laporan
Laba Rugi Komprehensif dan Catatan Laporan Keuangan telah sesuai dengan PSAK
60 revisi 2014. Meskipun dalam hal pengungkapan mengenai gagal bayar dan
pelanggaran, dan akuntansi lindung nilai tidak diungkapkan akan keberadaannya
maupun penjelasan yang memadai dalam Catatan Atas Laporan Keuangan Bank BCA.
|
|
Tanggapan
|
Pada pengungkapan laporan posisi keuangan BCA tidak
mengungkapkan adanya gagal bayar dan pelanggaran dari pinjaman yang diterima.
Bank menyajikan rincian fasilitas pinjaman yang diterima, yaitu jumlah
tercatat fasilitas jatuh tempo. Hal tersebut tidak sesuai dengan pengungkapan
informasi keuangan berdasarkan PSAK 60 dalam hal gagal bayar dan pelanggaran.
Dan pada pengungkapan lain perusahaan tidak mengungkapkan adanya keberadaan
instrument lindung nilai. BCA mengungkapkan pada CALK, rincian jumlah
tercatat dan nilai wajar setiap kelompok aset keuangan dan liabilitas
keuangan hal ini tidak sesuai dengan pengungkapan informasi keuangan
berdasarkan PSAK 60 dalam hal akuntansi lindung nilai.
|
Review Jurnal ke 3 ( Jurnal Akuntansi dan Keuangan )
|
Riview Jurnal Akuntansi Komparatif Eropa
|
|
|
Nama Jurnal
|
Jurnal Akuntansi dan Keuangan
|
|
Volume
|
Vol. 4 No. 2 Oktober 2015
|
|
Judul Jurnal
|
Analisis Komparatif Kualitas Informasi Akuntansi dan
Kinerja Keuangan Sebelum dan Sesudah Penerapan International Finance Reporting Standard.
|
|
Download
|
|
|
Nama Penulis
|
Reni Hariyani dan Martini
|
|
Tanggal Jurnal
|
Oktober 2015
|
|
Tujuan Penelitian
|
Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisis
serta membuktikan secara empiris apakah komparatif mengenai kualitas
informasi akuntansi dan kinerja keungan sebelum dan sesudah penerapan IFRS.
|
|
Metode Penelitian
|
Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari
ICMD (Indonesia Capital Market Directory), laporan keuangan yang
dipublikasikan oleh Bursa Efek Indonesia, serta data penelitian ini dilakukan
pada perusahaan yang telah menerapkan IFRS yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia tahun 2012-2013 dengan jumlah sampel 7 perusahaan. Jenis penelitia
ini adalah penelitian event study
dengan menggunakan teknik analisis uji beda dengan uji Paired-Sample T Test.
|
|
Variabel Penelitian
|
Variabel penelitian yang digunakan adalah Curret Ratio, Debt to Equity Ratio, Net
Profit Margin, Harga Saham dan Laba Akuntansi.
|
|
Hasil Penelitian
|
Hasil penelitian pada pengujian paired samples correlations diperoleh hasil korelasi antara
variabel current ratio yang
menghasilkan anga 0,518 dengan probabilitas (sig) 0,233. Hal ini menyatakan
bahwa korelasi antara sebelum dan sesudah penerapan IFRS berhubungan secara
tidak nyata, karena nilai probabilitas >0,05, debt to equity ratio yang menghasilkan angka 0,990 dengan nilai
probabilitas (sig) 0,000. Hal ini menyatakan bahwa korelasi antara sebelum
dan sesudah penerapan IFRS berhubungan secara nyata, karena nilai
probabilitas <0,05, net profit
margin yang menghasilkan angka 0,880 dengan nilai probabilitas (sig) 0,009.
Hal ini menyatakan bahwa korelasi antara sebelum dan sesudah penerapan IFRS
berhubungan secara nyata, karena nilai probabilitas <0,05, Harga saham,
yang menghasilkan angka 0,722 dengan nilai probalitas (sig) 0,067. Hal ini
menyatakan bahwa korelasi antara sebelum dan sesudah penerapan IFRS
berhubungan secara tidak nyata, karena nilai probabilitas >0,05, Laba
akuntansi yang menghasilkan angka 0,990 dengan nilai probabilitas (sig)
0,000. Hal ini menyatakan bahwa korelasi antara sebelum dan sesudah penerapan
IFRS berhubungan secara nyata, karena nilai probabilitas <0,05.
Hasil penelitian pada pengujian paired samples test diperoleh hasil T-hitung current ratio dengan nilai
probabilitas 0,338. Oleh karena probabilitas 0,338 > 0,05, maka Ho
diterima, yang berarti current ratio sebelum
dan sesudah penerapan IFRS adalah mean sebesar 1.3040 yaitu selisih rata-rata
current ratio sebelum dan sesudah
penerapan IFRS dengan sesudah penerapan IFRS. T-hitung debt to equity ratio adalah 0,355 dengan nilai probabilitas
0,735. Oleh karena probabilitas 0,7735 > 0,05, maka Ho diterima, yang
berarti debt to equity ratio sebelum
dan sesudah penerapan IFRS adalah sama atau tidak berbeda nyata. Dalam output
juga disertakan berbedaan mean sebesar 0,0882 yaitu selisih rata-rata debt to equity ratio sebelum penerapan
IFRS dengan sesudah penerapan IFRS. T-hitung net profit margin adalah 1.218 dengan nilai probabilitas 0,269.
Oleh karena probabilitas 0,269 > 0,05, maka Ho diterima, yang berarti net profit margin sebelum dan sesudah
penerapan IFRS adalah sama atau tidak berbeda nyata. Dalam output juga
disertakan berbedaan mean sebesar 1.320 yaitu sesilih rata-rata net profit margin sebelum dan sesudah
penerapan IFRS dengan sesudah penerapan IFRS. T-hitung harga saham adalah
0,347 dengan nilai probabilitas 0,741. Oleh karena probabilitas 0,741 >
0,05, maka Ho diterima, yang berrati harga saham sebelum dan asedudah
penerapan IFRS adalah sama atau tidak berbeda nyata. Dalam output juga
disertakan berbedaan mean sebesar 287,1514 yaitu selisih rata-rata harga
saham sebelum penerapan IFRS dengan sesudah penerapan IFRS. T-hitung laba
akuntansi adalah -0,897 dengan nilai probabilitas 0,0404. Oleh karena
probabilitas 0,404 > 0,05, maka Ho diterima, yang berarti laba akuntansi
sebelum dan sesudah penerapan IFRS adalah sama atau tidak berbeda nyata.
Dalam output juga disertakan berbedaan mea sebesar 1.3040 yaitu selisih
rata-rata laba akuntansi sebelum penerapan IFRS dengan sesudah penerapan
IFRS.
|
|
Kesimpulan
|
Kesimpulan hasil penelitian dapat dikemukakan bahwa berdasarkan
pembahasan yang telah dilakukan pada bab-bab sebelumnya maka penelitian yang
bertujuan untuk menganalisis perbedaan sebelum dan sesudah penerapan IFRS
pada tujuh perusahaan yang telah menerapkan IFRS menghasilkan kesimpulan
bahwa hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa peristiwa penerpan IFRS
tahun 2012 tidak terdapat perbedaan pada kualitas informasi akuntansi yang
diproksikan dengan harga saham dan laba akuntansi. Serta tidak terdapat perbedaan
pada kinerja keuangan yang diproksikan dengan CR, DER, dan NPM pada periode
sebelum dan sesudah IFRS.
|
|
Tanggapan
|
IFRS telah diterapkan di Indonesia pada tahun 2012
meskipun pada penelitian ini tidak terdapat perbedaan mengenai kualitas informasi
dan laba akuntansi dengan sebelum penerapan standarisasi tersebut. Tetapi
menggunakan standarisasi atau aturan umum yang dapat dipakai di seluruh dunia
akan lebih baik, ini berarti standar yang dipakai oleh negara Indonesia adalah
standar yang dipakai oleh negara-negara maju sehingga dapat dikatakan kualitas
informasi yang dihasilkan tidak jauh berbeda.
|
Langganan:
Postingan (Atom)