news studentsite

Senin, 01 Mei 2017

Review Jurnal 6 ( Transaksi Mata Uang Asing )

Nama Jurnal
Jurnal Dinamikan Ekonomi & Bisnis
Volume / Halaman
Vol. 2 No. 1 Halaman 35 - 44
Judul Jurnal
EKSPOSURE TRANSLASI AKUNTANSI PERKEMBANGAN DAN DAMPAKNYA BAGI NEGARA-NEGARA ASIA
Nama Penulis
Fitri Ella Fauziah dan Murharsito
Tanggal Jurnal
Maret 2005
Download
Tujuan Penelitian
-
Metode Penelitian
-
Variabel Penelitian
-
Hasil Penelitian
Perkembangan perekonomian yang begitu pesat ditandai dengan munculnya perusahaan-perusahaan multinasional corporation (MNCs) baik dinegara Eropa maupun di Asia yang membutuhkan translasi akuntansi untuk menyamakan laporan konsolidasi antara anak perusahaan dengan induk perusahaan (parent). Exposure translasi mencerminkan exposure laporan keuangan konsolidasi sebuah MNC terhadap pergerakan nilai tukar. Translasi laporan keuangan untuk tujuan konsolidasi tidak mempengaruhi arus kas perusahaan multinasional, Karena hal inilah sejumlah analis menyatakan bahwa exposure translasi tidak relevan. Sedangkan analis-analis yang lain berpendapat bahwa Karena laporan keuangan konsolidasi mencerminkan kinerja sebuah perusahaan multinasional, maka exposure translasi menjadi relevan. Sejak penerimaan perusahaan mempengaruhi harga saham, maka banyak MNCs yang memberikan perhatian terhadap exposure translasi. Sekalipun exposure translasi ini tidak mempengaruhi aliran kas perusahaan, namun banyak investor yang cenderung bereaksi negative apabila terjadi perbedaan dalam laporan penerimaan perusahaan dan salah satunya adalah laporan penerimaan konsolidasi. Oleh Karena itulah maka banyak MNCs yang kemudian memperhatikan exposure translasi. Exposure translasi tergantung pada derajat pengaruh asing yang meliputi cabang-cabang asing. Negara lokasi cabang-cabang tersebut dan metode akuntansi yang digunakan. Sehubungan dengan fluktuasi nilai tukar pada awal tahun 1970an, maka diadakan penelitian yang dirumuskan dalam Financial Accounting of Standards Board (FASB). Untuk selanjutnya hasilnya tertuang dalam FASB 8. Setelah diberlakukan ternyata FASB 8 ini menuai banyak kritikan, untuk selanjutnya diadakan sebuah penelitian yang menghasilkan FASB 52. Perbedaan inti pada FASB 52 ini adalah bahwa nilai kekayaan asing yang tidak disimpan dalam mata uang fungsional, akan dinilai ulang pada mata uang fungsional sesuai dengan translasi yang diutamakan. Pada FASB 52 meminta semua aktiva dan kwajiban diukur memakai kurs berjalan, maka distorsi yang diakibatkan oleh exposure translasi tidak lagi muncul. Menurut FASB 52 keuntungan dan kerugian translasi tidak dimasukan dalam laporan laba rugi namun dalam ekuitas pemegang saham, pada perkiraan penyesuaian translasi kumulatif. Hal ini diharapkan akan mengurangi variabilitas dari laba bersih pasca konsolidasi, Karena hanya perubahan-perubahan actual dari laba bersih yang akan dicatat dalam laporan laba rugi. FASB 52 mampu mengurangi exposure sebuah MNCs terhadap risiko translasi, walaupun tidak menghilangkannya secara total. Perkiraan ekuitas pemegang saham meningkat akibat keuntungan translasi atau menurun akibat kerugian translasi. Jadi rasio-rasio keuntungan seperti pengembalian atas ekuitas (laba bersih/ekuitas) dan rasio ungkitan atau leverage (hutang/ekuitas) dipengaruhi oleh keuntungan atau kerugian translasi.
Kesimpulan
Perkembangan perekonomian yang begitu pesat ditandai dengan munculnya perusahaan-perusahaan multinasional corporation (MNCs) baik di negara Eropa maupun di Asia yang membutuhkan translasi akuntansi untuk menyamakan laporan konsolidasi antara anak perusahaan dengan induk perusahaan (parent). Exposure translasi mencerminkan exposure laporan keuangan konsolidasi sebuah MNC terhadap pergerakan nilai tukar. Untuk mengukur exposure translasi, perusahaan-perusahaan multinasional dapat memprediksi laba dalam masing-masing valuta asing, dan kemudian menentukan dampak potensial dari pergerakan nilai tiap valuta asing terhadap valuta negara asal mereka. Exposure translasi tergantung pada derajat pengaruh asing yang meliputi cabang-cabang asing.
Pendapat Mengenai Jurnal
Risiko dari adanya exposure translasi harus ditanggulangi dengan melakukan perbaikan dalam peraturan-peraturan yang terkait dengan akuntansi.
Jurnal tersebut sudah bagus penjelasannya hanya saja dalam jurnal tersebut informasinya masih kurang lengkap, yaitu  tidak memuat tujuan, metode dan variable yang digunakan.


Minggu, 30 April 2017

Review Jurnal ke 5 ( Pelaporan dan Pengungkapan )


Judul Jurnal
PENERAPAN IFRS DAN HUBUNGANNYA DENGAN KOMPARABILITAS PENGUNGKAPAN ASET TETAP PADA LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN
Volume / Halaman
Volume 11/No. 1/ November 2014 : 83 - 102
Nama Penulis
Ardian Setianto dan Agung Juliarto
Tahun Jurnal
2014
Download
Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pelaksanaan IFRS dan hubungannya dengan komparabilitas pengungkapan aktiva tetap atau sekarang disebut PPE (Property, Plant, dan Peralatan) dalam laporan keuangan. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah penerapan IFRS yang berfokus pada perbandingan pengungkapan APD.
Metode Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian empiris dengan melakukan analisis pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2011-2013. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode purposive sampling dan 327 data observasi dianalisis. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini digunakan analisis regresi berganda dengan SPSS Rilis 20, yaitu pengambilan sampel dari populasi berdasarkan kriteria tertentu, dengan menggunakan perhitungan Struktur Aset, ROA (Return on Assets) dan Leverage. Menggunakan Statistik Deskriptif, Uji Normalitas, Uji Multikolinearitas, Uji Autokorelasi, Uji Heteroskedastisitas dan Uji Hipotesis Pengujian.
Variabel Penelitian
Variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tingkat pengungkapan aset tetap. Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan mengukur
tingkat pengungkapan awal atau Initial High Disclosure (IDH). Variabel interaksi penelitian ini menginteraksikan antara IDH dengan periode penerapan IFRS. Periode penerapan IFRS diukur dengan menggunakan variabel dummy.
Variabel control, ukuran perusahaan yaitu besar kecilnya perusahaan dilihat dari besarnya nilai ekuitas, nilai penjualan atau nilai total aktiva (Riyanto, 1998).
Hasil Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI pada tahun 2011-2013 yaitu berjumlah 139 perusahaan. Perusahaan yang menyediakan laporan keuangan untuk tahun 2011-2013 serta memenuhi kriteria sampel yaitu sebanyak 109 perusahaan per tahun. Total data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 327 pengamatan (109 perusahaan x 3 tahun).

Nilai rata-rata (mean) DISCL adalah 0,5224 yang berarti dalam satu periode laporam keuangan, perusahaan telah mengungkapkan sebanyak 52,24% item pengungkapan aset tetap konvergensi IFRS.

Pada tabel 4., 327 pengamatan yang diolah menunjukkan bahwa 205 perusahaan atau sebesar 62,7% perusahaan sampel memiliki selisih indeks pengungkapan perusahaan yang bersangkutan dengan indeks pengungkapan perusahaan terbaik lebih besar dari median. Adapun kondisi sebaliknya ditunjukkan oleh 112 perusahaan atau sebesar 37,3% perusahaan sampel.

Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk mendeteksi apakah dalam model regresi distribusi data normal atau tidak, dapat dilihat pada grafik normal probability plot yang membandingkan distribusi kumulatif data normal.

Uji Multikolinieritas
Dari tabel dapat diketahui bahwa nilai tolerance semua variabel mendekati angka 1 dan nilai VIF tidak lebih dari 10, sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam model regresi tidak terdapat multikolinearitas dan model regresi layak untuk dipakai.

Uji Heteroskedastisitas
Dari gambar grafik scatterplot diatas terlihat bahwa titik-titik menyebar secara acak diatas maupun dibawah angka 0 pada sumbu Y. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model regresi ini tidak terjadi heteroskedastisitas.

Uji Autokorelasi
Berdasarkan hasil analisis diperoleh nilai Durbin-Watson sebesar 1,799.  Nilai sigifikansi tersebut berada antara dU (1,7616) dan 4 – dU yaitu 2,2384. Dengan demikian menunjukkan bahwa model regresi tersebut sudah bebas dari masalah autokorelasi.

Analisis Regresi
Berdasarkan hasil uji analisis regresi linier di atas, maka diperoleh persamaan regresi sebagai berikut :
DISCL = 0,445 + 0,92(IDH) + 0,28(IFRS1) + 0,33(IFRS2) – 0,30(IDH*IFRS1) – 0,38(IDH*IFRS2) + 0,001(SIZE) + 0,14(ROA) + 0,002(LnSCALEDB) + 0,000 LnLEV + e

Uji Hipotesis
Koefisien Determinasi (R2)
Pada tabel 8 menunjukkan bahwa nilai koefisien determinasi yang ditunjukkan dari nilai adjusted R2 sebesar 0,775. Hal ini berarti bahwa 77,5% variasi indeks pengungkapan aset tetap dapat dijelaskan secara signifikan oleh variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu IDH, variabel interaksi IDH*IFRS1, IDH*IFRS2 dan dikontrol oleh SIZE, LnSCALEDB, ROA, LnLEV. Sedangkan sisanya sebesar 22,5% indeks pengungkapan aset tetap dapat dijelaskan oleh variabel lainnya di luar model.

Uji Signifikansi Simultan (Uji Statistik F)
Hasil pengolahan data dari tabel di atas menunjukkan bahwa nilai F sebesar 125,877 dengan nilai probabilitas sebesar 0,000 lebih rendah dari 0,05. Hal tersebut berarti bahwa model regresi dalam penelitian ini dapat digunakan.

Hasil Pengujian Tingkat Komparabilitas Pengungkapan Aset Tetap Berdasarkan kedua hasil pengujian hipotesis yang telah diterangkan di atas bahwa nilai signifikansi kedua variabel interaksi (0,000 dan 0,000) lebih kecil dari 0,05 dan nilai koefisien variabel interaksi yang semakin negatif dari tahun ke tahun (IDH*IFRS1= -3,735 dan  IDH*IFRS2= -4,721) maka dengan demikian disimpulkan bahwa Hipotesis diterima.

Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa hasil uji variabel interaksi antara indeks pengungkapan awal aset tetap perusahaan dengan periode penerapan IFRS tahun pertama dan periode penerapan IFRS tahun kedua memiliki pengaruh yang signifikan negatif terhadap tingkat pengungkapan aset tetap. Hasil ini menunjukkan bahwa seiring berjalannya penerapan konvergensi IFRS ke dalam PSAK terbaru, perbedaan tingkat pengungkapan aset tetap pada laporan keuangan perusahaan semakin berkurang.

Alasan mendasar atas hal ini yang pertama adalah, dengan PSAK terbaru konvergensi IFRS, perusahaan semakin dituntut untuk mengungkapkan informasi yang lebih luas sesuai dengan persyaratan yang diwajibkan dalam standar akuntansi di Indonesia terbaru. Kedua, walaupun perusahaan dituntut untuk mengungkapkan informasi yang lebih luas, namun seiring berjalannya waktu, perusahaan semakin memahami apa yang diinginkan oleh IFRS. Sehingga, dengan PSAK terbaru konvergensi IFRS, perbedaan laporan keuangan antar perusahaan semakin kecil. Hal ini yang kemudian membuat laporan keuangan konvergensi IFRS semakin dapat dibandingkan. 
Kesimpulan
Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa variabel interaksi antara indeks pengungkapan awal aset tetap perusahaan (IDH) dengan periode penerapan IFRS tahun pertama (IFRS1) dan periode penerapan IFRS tahun kedua (IFRS2)  memiliki pengaruh yang signifikan negatif terhadap tingkat pengungkapan aset tetap. Hal ini menunjukkan bahwa komparabilitas pengungkapan aset tetap pada laporan keuangan perusahaan menjadi semakin kecil seiring berlakunya konvergensi IFRS dari waktu ke waktu.

Oleh para penyusunnya, IASB, IFRS dirancang untuk menjadi standar akuntansi yang berlaku secara global. Akibatnya IFRS menjadi lebih fleksibel dan memberi keleluasaan pada akuntan untuk menggunakan pertimbangan profesional (professional judgement). Hal inilah yang menjadi kekhawatiran bahwa dengan IFRS justru akan mempersulit komparabilitas laporan keuangan dan menyuburkan manipulasi laporan keuangan. Penelitian ini telah membuktikan bahwa kekhawatiran akan berkurangnya tingkat keterbandingan (comparability) sebagai dampak berubahnya PSAK konvergensi IFRS yang kini bersifat principle-based  tidak terbukti.
Saran Penelitian
1.      Perluasan objek penelitian dengan meneliti elemen laporan keuangan secara keseluruhan, tidak hanya berfokus pada PSAK No.16: Aset Tetap dan dapat menggunakan sampel perusahaan yang lebih luas lagi sehingga hasilnya lebih dapat digeneralisasikan.
2.      Dalam mengukur variabel pengungkapan aset tetap dapat dilakukan dengan melibatkan lebih dari satu orang, untuk meminimalisasi unsur subjektifitas dalam proses interpretasi disclosure checklist.
3.      Untuk mengidentifikasi item-item pengungkapan dapat menggunakan checklist berdasarkan peraturan yang berlaku lainnya atau dapat mengembangkan sendiri. Sebab checklist yang berbeda dapat memberikan hasil penilaian yang berbeda pula. Hal ini dapat digunakan untuk menguji konsistensi hasil penelitian dalam skripsi ini.
4.      Penggunaan periode penelitian yang lebih panjang di tahun yang akan datang, sehingga hasil penelitian lebih akurat.
Pendapat Mengenai Jurnal
Komparabilitas laporan keuangan sangatlah penting sebagai konsekuensi pengadopsian IFRS maka sebaiknya diperlukan pengungkapan laporan keuangan yang luas tidak hanya berfokus pada PSAK No. 16 tetapi dapat menggunakan sampel perusahaan yang lebih luas lagi sehingga hasilnya dapat digeneralisasikan, dan dapat melibatkan lebih dari satu orang sehingga dapat meminimalisasi unsur subjektifitas dalam proses interpretasi disclosure checklist. Selain itu dapat menggunakan periode penelitian yang lebih panjang sehingga hasil penelitian lebih akurat.



Rabu, 29 Maret 2017

Review Jurnal ke 4 ( Jurnal EMBA )

Riview Jurnal Akuntansi Komparatif Amerika dan Asia
Nama Jurnal
Jurnal EMBA
Volume/Halaman
Vol. 4 No. 1 Maret 2016, Hal. 676-687
Judul Jurnal
Analisis pengungkapan informasi aset keuangan berdasarkan PSAK 60 pada PT. Bank Central Asia Tbk
Nama Penulis
Monica Supriyadi dan Herman Karamoy
Tanggal Jurnal
Maret 2016
Download
ANALISIS%20PENGUNGKAPAN%20INFORMASI%20ASET%20KEUANGAN
%20%20BERDASARKAN%20PSAK%2060%20PADA%20PT.%20BANK%20
CENTRAL%20ASIA%20TBK
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian pengungkapan informasi aset keuangan Bank BCA dengan PSAK No. 60
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian dilakukana pada kondisi yang alamiah langsung ke sumber data, pengumpulan data mnggunakan instrument penelitian, dan data yang terkumpul berupa sejarah perusahaan, visi dan misi perusahaan, struktur organisasi, aktivitas usaha, dan laporan keuangan yang terangkum dalam laporan tahuhnan PT. Bank Central Asia Tbk
Variabel Penelitian
Laporan posisi keuangan, Laporan laba rugi dan penghasilan komperhensif lain dan sifat dan cakupan resiko yang timbul dari instrument keuangan
Hasil Penelitian
Secara umum, PT. Bank Central Asia Tbk telah menerapkan PSAK No. 60 tentang pengungkapan instrumen keuangan. Dalam PSAK ini diatur bagaimana pengungkapan instrumen keuangan dalam laporan keuangan. PSAK 60 (2014) mensyaratkan pengungkapan mengenai instrumen keuangan yaitu aset dan liabilitas keuangan pada Laporan Posisi Keuangan, Laporan Laba Rugi Komprehensif, dan Catatan Atas Laporan Keuangan. Pengungkapan yang dilakukan BCA mengenai aset keuangan dan liabilitas keuangan yang diungkapkan pada Laporan Posisi Keuangan, Laporan Laba Rugi Komprehensif, dan Catatan Atas Laporan Keuangan menjelaskan bagaimana kategori aset dan liabilitas keuangan tersebut diukur dan bagaimana pendapatan dan beban, termasuk laba dan rugi atas nilai wajar (perubahan nilai wajar instrumen keuangan) diakui. PSAK 60 mensyaratkan setiap poin-poin yang harus diungkapkan mengenai instrumen keuangan dalam laporan keuangan. Bank BCA telah mengungkapkan setiap poin-poin dan terdapat beberapa poin yang belum diungkapkan secara jelas oleh perusahaan. Bank BCA tidak mengungkapkan instrumen keuangan majemuk dengan beberapa derivatif melekat, gagal bayar dan pelanggaran, dan akuntansi lindung nilai dalam Catatan Atas Laporan Keuangan (CALK) perusahaan.

PSAK 60 mensyaratkan pengungkapan mengenai gagal bayar dan pelanggaran, yaitu rincian gagal bayar selama periode, jumlah tercatat pinjaman diterima yang mengalami gagal bayar pada akhir periode pelaporan, dan perbaikan gagal bayar atau negoisasi ulang sebelum laporan keuangan diotorisasi untuk terbit. BCA mengungkapkan jumlah pinjaman yang diterima mengenai kredit likuiditas dari BI masih dalam proses penutupan perjanjian dan pinjaman dari bank-bank lain yang akan jatuh tempo tahun 2015 pada akhir periode 31 Desember 2014 dan 2013 dijaminkan dengan piutang pembiayaan konsumen. PSAK 60 mensyaratkan entitas mengungkapkan setiap jenis lindung nilai yang dideskripsikan dalam PSAK 55: Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran (yaitu lindung nilai atas nilai wajar, lindung nilai atas arus kas, dan lindung nilai atas investasi neto pada kegiatan usaha luar negeri). BCA tidak mengungkapkan secara jelas mengenai akuntansi lindung nilai. Jika instrumen derivatif sesuai dengan definisi lindung nilai sebaiknya perusahaan mengungkapan setiap uraian jenis lindung nilai tersebut. Diungkapkan bahwa entitas anak melakukan kontrak derivatif untuk mengelola resiko perubahan nilai tukar valuta asing. Dari pengungkapkan tersebut perusahaan berusaha untuk memimalkan resiko yang akan timbul, yang mengarah ke tujuan lindung nilai. Perusahaan diharapkan dapat mengklasifikasikan instrumen derivatif sebagai spekulatif atau lindung nilai agar pengguna laporan keuangan tidak salah interpretasi dalam memahami pengungkapan yang dilakukan perusahaan. PSAK 60 mensyaratkan entitas mengungkapkan keberadaan fitur penerbitan instrumen yang mengandung komponen liabilitas dan ekuitas dan instrumen tersebut memiliki beberapa derivatif melekat yang nilainya saling tergantung satu sama lain. Perusahaan tidak mengungkapkan adanya keberadaan fitur instrumen keuangan majemuk dengan beberapa derivatif melekat. Pada tanggal 31 Desember 2014 dan 2013, tidak ada instrumen keuangan yang berpotensi menjadi saham biasa. Oleh karena itu, laba per saham dilusian sama dengan laba per saham dasar. Dari pengungkapan tersebut dapat diketahui bahwa tidak adanya instrumen keuangan yang mempunyai karakteristik liabilitas dan ekuitas.

Penelitian ini membahas mengenai penerapan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 60 tentang pengungkapan instrumen keuangan. Bila dibandingkan dengan penelitian sebelumnya maka terdapat persamaan dalam pembahasan pengungkapan instrumen keuangan. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Longgorung (2015) yang dalam hasil penelitiannya menganalisis kesuaian pengungkapan instrumen keuangan perusahaan dengan PSAK 60. Penelitian ini meneliti objek penelitan PT. Bank Central Asia Tbk. Dibandingkan dengan penelitian ini, hasil penelitian Pulumbara (2014) menjelaskan bahwa PT. Bank Central Asia Tbk telah mengacu pada PSAK 50 dan PSAK 55, standar akuntansi mengenai isntrumen keuangan. Terdapat persamaan bahwa objek yang diteliti telah mengacu dan menerapkan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) mengenai instrumen keuangan.


Kesimpulan


Kesimpulan dari penelitian ini yaitu pengungkapan atas instrumen keuangan PT. Bank Central Asia Tbk masih mengacu pada PSAK 60 Revisi 2010. Namun dari uraian pembahasan yang telah dipaparkan, aset keuangan dan liabilitas keuangan, pengungkapan lain serta sifat dan cakupan resiko yang timbul dari instrumen keuangan yang diungkapkan dan disajikan pada Laporan Posisi Keuangan, Laporan Laba Rugi Komprehensif dan Catatan Laporan Keuangan telah sesuai dengan PSAK 60 revisi 2014. Meskipun dalam hal pengungkapan mengenai gagal bayar dan pelanggaran, dan akuntansi lindung nilai tidak diungkapkan akan keberadaannya maupun penjelasan yang memadai dalam Catatan Atas Laporan Keuangan Bank BCA.
Tanggapan
Pada pengungkapan laporan posisi keuangan BCA tidak mengungkapkan adanya gagal bayar dan pelanggaran dari pinjaman yang diterima. Bank menyajikan rincian fasilitas pinjaman yang diterima, yaitu jumlah tercatat fasilitas jatuh tempo. Hal tersebut tidak sesuai dengan pengungkapan informasi keuangan berdasarkan PSAK 60 dalam hal gagal bayar dan pelanggaran. Dan pada pengungkapan lain perusahaan tidak mengungkapkan adanya keberadaan instrument lindung nilai. BCA mengungkapkan pada CALK, rincian jumlah tercatat dan nilai wajar setiap kelompok aset keuangan dan liabilitas keuangan hal ini tidak sesuai dengan pengungkapan informasi keuangan berdasarkan PSAK 60 dalam hal akuntansi lindung nilai.


Review Jurnal ke 3 ( Jurnal Akuntansi dan Keuangan )

Riview Jurnal Akuntansi Komparatif Eropa
Nama Jurnal
Jurnal Akuntansi dan Keuangan
Volume
Vol. 4 No. 2 Oktober 2015
Judul Jurnal
Analisis Komparatif Kualitas Informasi Akuntansi dan Kinerja Keuangan Sebelum dan Sesudah Penerapan International Finance Reporting Standard.
Download
Nama Penulis
Reni Hariyani dan Martini
Tanggal Jurnal
Oktober 2015
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisis serta membuktikan secara empiris apakah komparatif mengenai kualitas informasi akuntansi dan kinerja keungan sebelum dan sesudah penerapan IFRS.
Metode Penelitian
Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari ICMD (Indonesia Capital Market Directory), laporan keuangan yang dipublikasikan oleh Bursa Efek Indonesia, serta data penelitian ini dilakukan pada perusahaan yang telah menerapkan IFRS yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2012-2013 dengan jumlah sampel 7 perusahaan. Jenis penelitia ini adalah penelitian event study dengan menggunakan teknik analisis uji beda dengan uji Paired-Sample T Test.
Variabel Penelitian
Variabel penelitian yang digunakan adalah Curret Ratio, Debt to Equity Ratio, Net Profit Margin, Harga Saham dan Laba Akuntansi.
Hasil Penelitian
Hasil penelitian pada pengujian paired samples correlations diperoleh hasil korelasi antara variabel current ratio yang menghasilkan anga 0,518 dengan probabilitas (sig) 0,233. Hal ini menyatakan bahwa korelasi antara sebelum dan sesudah penerapan IFRS berhubungan secara tidak nyata, karena nilai probabilitas >0,05, debt to equity ratio yang menghasilkan angka 0,990 dengan nilai probabilitas (sig) 0,000. Hal ini menyatakan bahwa korelasi antara sebelum dan sesudah penerapan IFRS berhubungan secara nyata, karena nilai probabilitas <0,05, net profit margin yang menghasilkan angka 0,880 dengan nilai probabilitas (sig) 0,009. Hal ini menyatakan bahwa korelasi antara sebelum dan sesudah penerapan IFRS berhubungan secara nyata, karena nilai probabilitas <0,05, Harga saham, yang menghasilkan angka 0,722 dengan nilai probalitas (sig) 0,067. Hal ini menyatakan bahwa korelasi antara sebelum dan sesudah penerapan IFRS berhubungan secara tidak nyata, karena nilai probabilitas >0,05, Laba akuntansi yang menghasilkan angka 0,990 dengan nilai probabilitas (sig) 0,000. Hal ini menyatakan bahwa korelasi antara sebelum dan sesudah penerapan IFRS berhubungan secara nyata, karena nilai probabilitas <0,05.

Hasil penelitian pada pengujian paired samples test diperoleh hasil T-hitung current ratio  dengan nilai probabilitas 0,338. Oleh karena probabilitas 0,338 > 0,05, maka Ho diterima, yang berarti current ratio sebelum dan sesudah penerapan IFRS adalah mean sebesar 1.3040 yaitu selisih rata-rata current ratio sebelum dan sesudah penerapan IFRS dengan sesudah penerapan IFRS. T-hitung debt to equity ratio adalah 0,355 dengan nilai probabilitas 0,735. Oleh karena probabilitas 0,7735 > 0,05, maka Ho diterima, yang berarti debt to equity ratio sebelum dan sesudah penerapan IFRS adalah sama atau tidak berbeda nyata. Dalam output juga disertakan berbedaan mean sebesar 0,0882 yaitu selisih rata-rata  debt to equity ratio sebelum penerapan IFRS dengan sesudah penerapan IFRS. T-hitung net profit margin adalah 1.218 dengan nilai probabilitas 0,269. Oleh karena probabilitas 0,269 > 0,05, maka Ho diterima, yang berarti net profit margin sebelum dan sesudah penerapan IFRS adalah sama atau tidak berbeda nyata. Dalam output juga disertakan berbedaan mean sebesar 1.320 yaitu sesilih rata-rata net profit margin sebelum dan sesudah penerapan IFRS dengan sesudah penerapan IFRS. T-hitung harga saham adalah 0,347 dengan nilai probabilitas 0,741. Oleh karena probabilitas 0,741 > 0,05, maka Ho diterima, yang berrati harga saham sebelum dan asedudah penerapan IFRS adalah sama atau tidak berbeda nyata. Dalam output juga disertakan berbedaan mean sebesar 287,1514 yaitu selisih rata-rata harga saham sebelum penerapan IFRS dengan sesudah penerapan IFRS. T-hitung laba akuntansi adalah -0,897 dengan nilai probabilitas 0,0404. Oleh karena probabilitas 0,404 > 0,05, maka Ho diterima, yang berarti laba akuntansi sebelum dan sesudah penerapan IFRS adalah sama atau tidak berbeda nyata. Dalam output juga disertakan berbedaan mea sebesar 1.3040 yaitu selisih rata-rata laba akuntansi sebelum penerapan IFRS dengan sesudah penerapan IFRS.


Kesimpulan


Kesimpulan hasil penelitian dapat dikemukakan bahwa berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan pada bab-bab sebelumnya maka penelitian yang bertujuan untuk menganalisis perbedaan sebelum dan sesudah penerapan IFRS pada tujuh perusahaan yang telah menerapkan IFRS menghasilkan kesimpulan bahwa hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa peristiwa penerpan IFRS tahun 2012 tidak terdapat perbedaan pada kualitas informasi akuntansi yang diproksikan dengan harga saham dan laba akuntansi. Serta tidak terdapat perbedaan pada kinerja keuangan yang diproksikan dengan CR, DER, dan NPM pada periode sebelum dan sesudah IFRS.
Tanggapan
IFRS telah diterapkan di Indonesia pada tahun 2012 meskipun pada penelitian ini tidak terdapat perbedaan mengenai kualitas informasi dan laba akuntansi dengan sebelum penerapan standarisasi tersebut. Tetapi menggunakan standarisasi atau aturan umum yang dapat dipakai di seluruh dunia akan lebih baik, ini berarti standar yang dipakai oleh negara Indonesia adalah standar yang dipakai oleh negara-negara maju sehingga dapat dikatakan kualitas informasi yang dihasilkan tidak jauh berbeda.