|
SRI RATU MEGA CENTRE PEKALONGAN
|
|
i
DAFTAR ISI
JUDUL
............................. i
Daftar isi
............................ ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
.........................................................................1
1.2 Tujuan
penelitian......................................................................2
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS
2.1 Landasan
teori............................................................................3
2.2 Sejarah
.......................................................................................4
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Pengumpulan data
...................................................................... 6
3.2 Penentuan Sampel
...................................................................... 6
3.3 Teknik Analisis
.......................................................................... 6
BAB IV Pembahasan dan hasil
penelitian
....................................... 7
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
............................................ 12
BAB VI DAFTAR PUSTAKA
.......................................................... 13
ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Globalisasi dan kondisi
ekonomi beberapa tahun
terakhir telah mendorong
pertumbuhan usaha pasar modern yang pesat, terutama
bisnis ritel modern di
kota-kota besar. Usaha
ritel dan pasar modern merupakan usaha yang sangat
diminati oleh kalangan dunia
usaha karena perannya yang sangat strategis, yang tidak saja menyangkut
kepentingan produsen, distributor dan
konsumen juga perannya
dalam menyerap tenaga
kerja, sarana yang efisien
dan efektif dalam
pemasaran hasi produksi,
sekaligus dapat digunakan untuk
mengetahui image dari suatu produk
di pasar, termasuk
preferensi yang dikehendaki oleh pihak konsumen. Munculnya pasar-pasar
dan toko modern tersebut menjadi salah satu indikator keberhasilan daerah dalam
meningkatkan kapasitas perkonomian daerah. Namun tentu saja keberadaan pasar
dan toko modern tersebut akan berakibat pada ketatnya persaingan diantara
pelaku usaha yang ada, sehingga pengaturannya harus selaras dengan
kebijakan-kebijakan yang sudah ada agar tidak terjadi dampak negatif terutama
bagi pelaku usaha kecil yang ada.
Beberapa kalangan menganggap bahwa dengan memperluas pendirian pasar
modern bisa berdampak pada makin baiknya pertumbuhan ekonomi dan iklim
investasi,
serta meningkatnya pendapatan daerah melalui pajak dan retribusi
daerah. Secara konseptual, banyak kalangan yang mengasumsikan bahwa antara
pasar modern dan pasar tradisional memiliki segmen pasar yang berbeda. Akan tetapi kenyataannya tidaklah demikian
karena justru segmen pasar modern dan pasar tradisional adalah sama dan mereka
bersaing secara bebas. Akibatnya, tentu saja pasar tradisional yang kalah
karena beberapa keunggulan yang ada pada pasar modern seperti bisa menjual
produk dengan harga yang lebih murah, kualitas produk terjamin, kenyamanan
berbelanja, dan banyaknya pilihan cara pembayaran. Untuk mengantisipasi
kemungkinan terjadinya dampak negatif bagi pelaku usaha kecil – menengah,
pemerintah telah mengatur beroperasinya pelaku-pelaku perdagangan melalui
Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar
Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern; yang kemudian ditindak
lanjuti dengan pedoman pelaksanaan dengan Peraturan Menteri Perdagangan nomor
53/M- Dag/Per/12/2008 tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional,
Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern.
Regulasi ini hendaknya benar-
31
benar ditaati oleh pelaku-pelaku perdagangan khususnya untuk
pasar/toko modern. Banyak kalangan yang mengasumsikan bahwa antara pasar modern
dan pasar tradisional memiliki segmen pasar yang berbeda. Akan tetapi kenyataannya tidaklah demikian
karena justru segmen pasar modern dan pasar tradisional adalah sama dan mereka
bersaing secara bebas. Akibatnya, tentu saja pasar tradisional yang kalah
karena beberapa keunggulan yang ada pada pasar modern seperti bisa menjual
produk dengan harga yang lebih murah, kualitas produk terjamin, kenyamanan
berbelanja, dan banyaknya pilihan cara pembayaran. Oleh karena itu masalah
pokok yang hendak dikaji melalui penelitian ini adalah apakah terdapat
perbedaan pendapatan pedagang pasar tradisional antara sebelum dan sesudah
adanya pasar modern Sri Ratu Mega Center/Carrefour Pekalongan. Tujuan pada
penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak dari kehadiran pasar modern Sri
Ratu Mega Center/Carrefour terhadap pendapatan pedagang pasar tradisional di
kota Pekalongan. Adapun manfaat dari penelitian ini adalah dapat memberikan
informasi kepada para pelaku ekonomi di
Pekalongan khususnya pedagang pasar tradisional mengenai dampak
yang ditimbulkan dengan beroperasiny pasar modern disekitar pasar tradisional
yang telah ada. Keberadaan pasar, khusunya pasar tradisional, merupakan salah
satu indikator paling nyata kegiatan ekonomi masyarakat disuatu wilayah.
Pemerintah harus memperhatikan
keberadaan pasar tradisional sebagai salah satu sarana publik yang
mendukung kegiatan ekonomi masyrakat. Perkembangan jaman dan perubahan gaya
hidup yang dipromosikan begitu hebat oleh berbagai media
1
dalam berbagai bentuk.
(Indrakh, 2007). Maraknya pembangunan pasar modern membuat pedagang pasar
tradisional tidak mampu bertahan. Beberapa berita terbaru dimedia masa
mengatakan bahwa tidak sedikit pasar tradisional yang tersebar di pelosok
Indonesia kolaps, hal ini diduga akibat dari pembangunan pasar modern di
Indonesia yang semakin marak. Dari berbagai hasil penelitian yang penulis
kutip, kondisi usaha dan kinerja pasar
32
tradisional menunjukkan penurunan setelah beroperasinya pasar
modern. Ini diantaranya menyangkut kinerja : aset, omset penjualan, perputaran
barang dagangan dan keuntungan serta pendaapatan pedagang tradisional. Hal
diatas memberikan keinginan bagi penulis untuk mengangkatnya dalam penelitian,
dengan tujuan untuk mengetahui dampat dari pasar modern terhadap pendapatan
pedagang tradisional di kota Pekalongan juga untuk membuktikan dampak pasar
pasar modern terhadap pendapatan pedagang pasar tradisional di kota Pekalongan.
Mendasarkan pada kondisi dan identifikasi masalah, maka dapat diambil suatu hipotesis
yaitu : Terdapat perbedaan pendapatan yang diperoleh pedagang pasar tradisional
antara sebelum dan setelah adanya pasar modern di kota Pekalongan.
1.2 TUJUAN
1.
Mengetahui
pengertian tentang bisnis ritel yang ada disuatu daerah ?
2.
Mengetahui sejarah
bisnis ritel tersebut ?
3.
Bisnis ritel yang
sangat signifikan terhadap perkembangan konsumen ?
4.
mengetahui pengertian pendapatan asli daerah
dan pendapatan nasional ?
5.
mengetahui
pendapatan bisnis ritel itu dalam daerah tersebut ?
6.
dan mengetahui
seberapa pendapatan daerah yang berpengaruh pada pendapatan nasional ?
2
BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN
HIPOTESIS
2.1 Landasan teori
Bisnis Ritel
secara umum adalah kegiatan usaha menjual aneka barang atau jasa untuk konsumsi
langsung atau tidak langsung. Dalam matarantai perdagangan bisnis ritel
merupakan bagian terakhir dari proses distribusi suatu barang atau jasa dan
bersentuhan langsung dengan konsumen.
Bisnis Ritel di Indonesia sebenarnya terbagi menjadi dua, yaitu
Ritel Tradisional dan Ritel Modern. Namun seiring berjalannya waktu, ritel
tradisional banyak ditinggalkan oleh para konsumen. Sehingga peningkatan bisnis
ritel modern di Indonesia melonjak tajam.
Adapun perbedaan bisnis retail tradisional dengan bisnis retail
modern adalah bisnis retail tradisional adalah bisnis yang dibangun dan
dikelola oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, Swasta, Badan Usaha Milik Negara
dan Badan Usaha Milik Daerah termasuk kerjasama dengan swasta dengan tempat
usaha berupa toko, kios, los dan tenda yangdimiliki/dikelola oleh pedagang
kecil, menengah, swadaya masyarakat atau koperasi dengan usaha skala kecil,
modal kecil dan dengan proses jual beli barang dagangan melalui
tawar menawar. Seperti pasar tradisional, toko kelontong, dan lain-lain.
Sedangkan bisnis retail modern berdasarkan definisi yang tertuang dalam
Keputusan Presiden RI No. 112/Th. 2007
Pendapatan Asli Daerah adalah salah satu sumber
penerimaan yang harus selalu terus menerus di pacu pertumbuhannya. Dalam
otonomi daerah ini kemandirian pemerintah daerah sangat dituntut dalam
pembiayaan pembangunandaerah dan pelayaan kepada masyarakat. Oleh sebab itu
pertumbuhan investasidi pemerintah kabupaten dan kota perlu diprioritaskan
karenadiharapkan memberikan dampak positif terhadap peningkatan
perekonomianregional.Menurut Halim (2004: 67), "Pendapatan Asli Daerah
(PAD) merupakansemua penerimaan daerah yang berasal dari sumber ekonomi asli
daerah.Pasal 157 UU No. 32 Tahun 2004 dan Pasal 6 UU No. 33 Tahun
2004menjelaskan bahwa sumber Pendapatan Asli Daerah terdiri:1. Pajak Daerah,2.
Retribusi Daerah,3. Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan,4.
Lain-lain Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang sah.Menurut Undang-Undang No. 33
Tahun 2004, Pasal 1, .Pendapatan AsliDaerah adalah penerimaan yang diperoleh
daerah dari sumber-sumber di dalamdaerahnya sendiri yang dipungut berdasarkan
peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku..
Pendapatan Asli Daerah merupakansumber penerimaan daerah yang asli digali di
daerah yang digunakan untuk modaldasar pemerintah daerah dalam membiayai
pembangunan dan usaha-usaha daerahuntuk memperkecil ketergantungan dana dari
pemerintah pusat.Menurut Mardiasmo (2002: 132), Pendapatan Asli Daerah adalah
penerimaandaerah dari sektor pajak daerah, retribusi daerah, hasil perusahaan
milik daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan
lain-lain Pendapatan Asli Daerahyang sah.
Pendapatan nasional
adalah jumlah pendapatan yang diterima oleh seluruh rumah tangga keluarga (RTK)
di suatu negara dari penyerahan faktor-faktor produksi dalam satu
periode,biasanya selama satu tahu
3
2.2 SEJARAH
Pasaraya Sri Ratu Pekalongan didirikan pertama kali pada tahun
1990 sebagai cabang ke-4 Sri Ratu group, berlokasi di komplek Batik Plaza di
jalan merdeka no.22 Pekalongan.Tahun 1994, Sri Ratu mengalami musibah
kebakaran.
Tahun 1996,Pasaraya Sri Ratu Pekalongan mulai kembali hadir setelah dipugar dan melakukan Grand Opening pada tanggal 01 Januari 1996. Bila sebelumnya hanya 3 lantai, maka setelah pembangunan kembali, Pasaraya Sri ratu bertambah 1 lantai menjadi 4 lantai.
Seiring dengan berjalannya waktu , Pasaraya Sri ratu sebagai perintis pasar modern dikota Pekalogan kian berkembang.Selain itu bisnis retail yang menjadi pesaing kian bermunculan,dimulai dengan MATAHARI,BOROBUDUR bahkan adik cabang,SRI RATU MEGA CENTER .Pasaraya Sri Ratu Pekalongan TERBUKTI sebagai perusahaan lokal yang dapat bersaing dengan perusahaan asing dan menjadi kebanggan warga Pekalongan .Semua itu berkat dukungan warga Pekalongan.
Tahun 1996,Pasaraya Sri Ratu Pekalongan mulai kembali hadir setelah dipugar dan melakukan Grand Opening pada tanggal 01 Januari 1996. Bila sebelumnya hanya 3 lantai, maka setelah pembangunan kembali, Pasaraya Sri ratu bertambah 1 lantai menjadi 4 lantai.
Seiring dengan berjalannya waktu , Pasaraya Sri ratu sebagai perintis pasar modern dikota Pekalogan kian berkembang.Selain itu bisnis retail yang menjadi pesaing kian bermunculan,dimulai dengan MATAHARI,BOROBUDUR bahkan adik cabang,SRI RATU MEGA CENTER .Pasaraya Sri Ratu Pekalongan TERBUKTI sebagai perusahaan lokal yang dapat bersaing dengan perusahaan asing dan menjadi kebanggan warga Pekalongan .Semua itu berkat dukungan warga Pekalongan.
Pasar Raya Sri Ratu:Pionir Pusat Perbelanjaan Modern di Semarang
Boleh dibilang Pasar Raya Sri Ratu adalah raja ritel dari Jawa Tengah. Bagaimana tidak, selain
kepeloporannya, dalam bisnis pusat perbelanjaan modern yang dirintis sejak tahun 1970-an,
gerainya juga terus beranak pinak. Dari Semarang, gerai Sri Ratu merambah ke Purwokerto,
Tegal, Pekalongan, bahkan meluas hingga ke Jawa Timur, yakni di Kediri dan Madiun.
Hebatnya, meski belakangan jaringan hypermarket dan supermarket asal Jakarta agresif
menyerbu Semarang, Sri Ratu tetap eksis. Lihat saja kehadiran gerai Carrefour, Hypermart,
Makro, Matahari Department Store, dan Alfa Supermarket yang menambah marak persaingan
bisnis ritel di ibu kota Ja-Teng itu. Namun, entah mengapa justru beberapa peritel besar yang
menjadi kompetitor Sri Ratu itu malah limbung.
Boleh dibilang Pasar Raya Sri Ratu adalah raja ritel dari Jawa Tengah. Bagaimana tidak, selain
kepeloporannya, dalam bisnis pusat perbelanjaan modern yang dirintis sejak tahun 1970-an,
gerainya juga terus beranak pinak. Dari Semarang, gerai Sri Ratu merambah ke Purwokerto,
Tegal, Pekalongan, bahkan meluas hingga ke Jawa Timur, yakni di Kediri dan Madiun.
Hebatnya, meski belakangan jaringan hypermarket dan supermarket asal Jakarta agresif
menyerbu Semarang, Sri Ratu tetap eksis. Lihat saja kehadiran gerai Carrefour, Hypermart,
Makro, Matahari Department Store, dan Alfa Supermarket yang menambah marak persaingan
bisnis ritel di ibu kota Ja-Teng itu. Namun, entah mengapa justru beberapa peritel besar yang
menjadi kompetitor Sri Ratu itu malah limbung.
âہ“Sebenarnya kami sempat grogi juga dikepung oleh peritel kakap dari Jakarta. Apalagi
beberapa lokasi Sri Ratu head to head dengan peritel-peritel raksasa tersebut,â€Â tutur
Resturiadi Tresno Santoso yang membesut Sri Ratu bersama istrinya, Tutik Santoso.
Resturiadi memiliki jurus khusus agar Sri Ratu bisa memenangi persaingan. âہ“Kami
mengubah konsep Sri Ratu dari one stop shopping menjadi mal,â€Â ujar pria kelahiran
Yogyakarta tahun 1949 itu. Maka, di akhir tahun 2008 bos yang membawahkan 4.500 karyawan
ini memperluas tiga toko Sri Ratu menjadi mal, yakni gerai toko di Madiun, Tegal dan Kediri.
Kunci keberhasilan lainnya dalam mengelola Sri Ratu: tekun dan ulet. âہ“Yang jelas, kami
harus customer-oriented dan memberi pelayanan terbaik,â€Â kata Resturiadi yang juga
berbisnis ayam petelur di bawah payung PT Rehobat. Tidak kalah penting, kekuatan Sri Ratu
adalah memiliki relasi bisnis yang luas di luar negeri. Kolega-kolega inilah yang memasok aneka
rupa produk fashion-branded ke Sri Ratu.
Resturiadi mengisahkan cikal bakal kelahiran Sri Ratu. Mula-mula usahanya itu hanyalah toko kecil
biasa yang dibuka pada 1978. Ia dipaksa ayahnya untuk mandiri secara ekonomi dengan
membuka usaha toko. âہ“Awalnya saya bingung, toko ini mau diisi apa. Untunglah, ada
beberapa relasi saat saya menjadi salesman sepatu yang bersedia menjadi pemasok dengan
sistem pembayaran di belakang,â€Â ujarnya sembari mengutarakan, awalnya jumlah
pegawai yang digaji hanya 20 orang.
Tak dinyana, dalam perkembangannya toko itu menjadi besar. Dan, tahun 1986 bendera Sri Ratu
mulai dikibarkan dengan diikrarkan sebagai pusat perbelanjaan modern pertama yang sudah
berpendingin dan ada fasilitas eskalatornya. âہ“Betul, sebelum Sri Ratu sudah ada
supermarket Mickey Mouse. Tapi, supermarket itu belum ada AC dan eskalatornya,â€Â
Resturiadi menuturkan. Jadi, ia menegaskan, Sri Ratu-lah yang menjadi pionir pusat perbelanjaan
modern ber-AC dan memiliki tangga berjalan yang otomatis.
4
Gerai Sri Ratu yang perdana di Semarang dibangun setinggi empat
lantai dengan masing-masing
lantai seluas 1.500 m2. Dengan konsep one stop shopping kala itu, Sri Ratu terdiri dari
department store, supermarket, kafetaria dan arena bermain anak-anak.
Ketika membangun Sri Ratu, Resturiadi mengaku tidak semata-mata mengejar untung, melainkan
juga membawa misi pemberdayaan ekonomi dari Pemda Semarang. Mereka menginginkan adanya
pembangunan pusat perbelanjaan yang bisa menjadi lokomotif ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Itulah sebabnya pembangunan Sri Ratu didukung penuh oleh Bank Pembangunan Daerah Jateng.
âہ“Tujuannya memang untuk lebih menghidupkan dan menjadi lokomotif ekonomi Kota
Semarang,â€Â ia menambahkan.
lantai seluas 1.500 m2. Dengan konsep one stop shopping kala itu, Sri Ratu terdiri dari
department store, supermarket, kafetaria dan arena bermain anak-anak.
Ketika membangun Sri Ratu, Resturiadi mengaku tidak semata-mata mengejar untung, melainkan
juga membawa misi pemberdayaan ekonomi dari Pemda Semarang. Mereka menginginkan adanya
pembangunan pusat perbelanjaan yang bisa menjadi lokomotif ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Itulah sebabnya pembangunan Sri Ratu didukung penuh oleh Bank Pembangunan Daerah Jateng.
âہ“Tujuannya memang untuk lebih menghidupkan dan menjadi lokomotif ekonomi Kota
Semarang,â€Â ia menambahkan.
Sewaktu pertama diperkenalkan, Sri Ratu sempat menimbulkan pro dan kontra. Kala itu, banyak
yang pesimistis bahwa Sri Ratu akan bertahan lama dengan penampilannya yang megah dan
modern. â€Â Orang-orang menganggap cost kami akan tinggi, sehingga tidak bisa ditutup
dengan omset penjualan,â€Â papar Resturiadi. Toh, faktanya tidak demikian. Malahan, Sri
Ratu terus mengepakkan sayap bisnisnya.
Setelah sukses di Semarang, setiap dua tahun muncullah cabang Sri Ratu di tempat lain. Selain
menambah gerai di Semarang, tepatnya di kawasan Peterongan, Sri Ratu merambah pula ke kotakota
lain. Sekadar informasi, ekspansi Sri Ratu keluar kota Semarang ternyata sebagian besar
atas permintaan dari pemda setempat yang menginginkan daerahnya maju. âہ“Meski kami
diminta, tidak ada fasilitas khusus, kecuali kemudahan perizinan,â€Â ucap bapak dua anak
5
BAB III
METODE
PENELITIAN
METODE PENELITIAN.
3.1 Pengumpulan data
. Dalam penelitian Dampak Operasi Pasar Modern Terhadap Pendapatan
Pedagang Pasar Tradisional Di Kota Pekalongan dibutuhkan data primer tetapi
juga data sekunder, sebagai data pendukung dalam penelitian ini. Data primer dikumpulkan dengan guided
interview dimana responden yang ditemui diberi kebebasan mengemukakan jawaban
atas kuesioner yang diberikan dengan panduan oleh surveyor sedangkan tehnik
pengambilan sampling dengan menggunakan acidental sampling yaitu setiap
responden nyang ditemui dan bersedia dijadikan responden mereka dipersilahkan
menjawab daftar pertanyaan yang telah disediakan. Sedangkan data sekunder
dibutuhkan untuk mengetahui gambaran umum wilayah penelitian.
3.2 Penentuan Sampel Agar analisis dapat dilakukan secara akurat,
maka diperlukan sampel dari pelaku dunia usaha yang memiliki kepentingan
terhadap penelitian tentang Dampak Operasi Pasar Modern terhadap Pendapatan
Pedagang Pasar Tradisional di Kota Pekalongan. Untuk itu ditetapkan sampel sebanyak
150 responden, yang merupakan pelaku pasar tradisional dikota Pekalongan yang
terletak disekitar pasar modern dalam hal ini adalah Sri Ratu Mega
Center/Carrefour yang terdiri dari : pasar Podosugih, pasar Grogolan, pasar
Anyar, dan pasar Banyu Urip serta
beberapa pedagang yang berada disekitar pasar tersebut.
3.3 Teknik Analisis. Untuk menganalisis dampak beroperasinya pasar
modern terhadap pendapatan pedagang pasar tradisional di kota Pekalongan
dilakukan dengan menguji apakah ada perbedaan pendapatan yang diterima pelaku
pasar tradisional sebelum dan sesudah adanya pasar modern. Pengujian dilakukan
dengan langkah : a. Melakukan analisis diskriptif terhadap dampak yang
ditimbulkan dengan adanya pasar modern yaitu Sri Ratu Mega Center/Carrefour
bagi pendapatan pedagang pasar tradisonal yang berada disekitar pasar modern
tersebut baik dampak positip maupun negatif. b. Menguji normalitas data, yaitu
untuk menguji apakah data yang tersedia berdistribusi normal atau tidak dengan
menggunakan Kolmogorov-Smirnov. Hal ini dilkaukan untuk menentukan alat
statistik yang digunakan apakah parametrik atau non parametrik. c. Melakukan
uji komparasi dua sample berpasangan, yaitu untuk menguji apakah ada perbedaan
pendapatan yang diterima pelaku pasar tradisional sebelum dan sesudah adanya
pasar modern. Pengujian menggunakan Paired Sample Test apabila datanya
berdistribusi normal dan Wilcoxon Sign Test apabila datanya tidak berdistribusi
normal.
6
BAB IV
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
Banyak perbedaan yang dihadirkan
bisnis rital tradisional maupun bisnis ritail modern. Sehingga kini di
kabupaten atau kota bahkan desa di Indonesia, “bisnis retail” terlebih bisnis
ritel modern mulai banyak dilirik kalangan pengusaha, sebab memiliki pengaruh
positif terhadap jumlah lapangan pekerjaan dan keuntungannya yang menjanjikan.
Dalam 6 tahun terakhir,
perkembangan ketiga format modern market di atas sangatlah tinggi. konsepnya
yang modern, adanya sentuhan teknologi dan mampu memenuhi perkembangan gaya
hidup konsumen telah memberikan nilai lebih dibandingkan dengan market
tradisional. Selain itu atmosfer belanja yang lebih bersih dan nyaman, semakin
menarik konsumen dan dapat menciptakan budaya baru dalam berbelanja.
Munculnya konsep ritel baru seperti
hipermarket, supermarket, dan minimarket, yang termasuk ke dalam jenis ritel
modern (pasar modern) merupakan peluang pasar baru yang dinilai cukup potensial
oleh para pebisnis ritel, namun dilain sisi dapat mengancam keberadaan pasar
tradisional yang belum dapat bersaing dengan pasar modern terutama dalam hal
manajemen usaha dan permodalan. Dari waktu ke waktu jumlah pasar modern
cenderung mengalami pertumbuhan positif sedangkan pasar tradisional cenderung
mengalami pertumbuhan negatif.
Dalam periode enam tahun
terakhir, dari tahun 2007–2012, jumlah gerai ritel modern di Indonesia
mengalami pertumbuhan rata-rata 17,57% per tahun. Pada tahun 2007, jumlah usaha
ritel di Indonesia masih sebanyak 10.365 gerai, kemudian pada tahun 2011
mencapai 18.152 gerai tersebar di hampir seluruh kota di Indonesia. Pertumbuhan
jumlah gerai tersebut tentu saja diikuti dengan pertumbuhan penjualan.
Untuk penyebaran toko, paling
banyak di Pulau Jawa dengan 57 persen, dan Sumatera dengan 22 persen, sisanya
21 persen ada di pulau lain. Bisnis ritel lebih cepat tumbuh di pinggiran kota,
karena banyaknya pemukiman di lokasi tersebut. Daerah inilah yang menjadi
target dari ritel modern jenis minimarket.
Berdasarkan sebaran geografisnya,
gerai-gerai Pasar Modern tersebut terkonsentrasi di Pulau Jawa. Pada 2008, dari
sekitar 11.866 gerai Pasar Modern, sekitar 83% diantaranyaberlokasi di Pulau
Jawa (Tabel 4). Propinsi DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur senantiasa
menjadi daerah dengan jumlah gerai Pasar Modern terbanyak. Terkonsentrasinya
gerai-gerai Pasar Modern di Pulau Jawa tidak lepas dari kondisi dimana
konsentrasi penduduk dan pusat perekonomian Indonesia memang berada
di pulau ini
7
Menurut survei Nielsen dalam
Hartati (2006), jumlah pusat perdagangan modern di Indonesia, baik hipermarket,
supermarket, minimarket, hingga convenience store, meningkat hampir 7,4% selama
periode 2003-2005. Dari total 1.752.437 gerai pada tahun 2003 menjadi 1.881.492
gerai di tahun 2005. Hal tersebut justru berbanding terbalik dengan pertumbuhan
ritel tradisional yang tumbuh negatif sebesar delapan persen per tahunnya
selama periode tahun 2003-2005.
Sekalipun mengalami penurunan
jumlah toko yang menjual barang-barang konsumen sebesar 1,3 persen dari tahun
2010, jumlah toko di Indonesia merupakan terbesar kedua di dunia setelah India.
Jumlah toko (tradisional dan modern) di Indonesia mencapai 2,5 juta took hal
ini dikutip dari Nielsen Executive Director Retail Measurement Services Teguh
Yunanto pada tanggal 15/3/2011.
Untuk penyebaran toko, paling
banyak di Pulau Jawa dengan 57 persen, dan Sumatera dengan 22 persen, sisanya
21 persen ada di pulau lain. Namun, Teguh menjelaskan, ritel lebih tumbuh di
pinggiran kota, mengingat lokasi permukiman banyak di daerah tersebut. Daerah
inilah yang menjadi target dari ritel modern jenis minimarket.
Ritel modern tumbuh 38 persen
dengan 18.152 toko di Indonesia, dibandingkan tahun 2009. Dari jumlah tersebut,
sekitar 16.000 toko merupakan minimarket. Namun format ritel modern lainnya,
seperti supermarket justru turun 6 persen, sedangkan hypermarket tumbuh 23
persen dengan 154 toko
Meskipun dinilai memiliki potensi
besar seiring daya beli masyarakatnya yang semakin meningkat, pertumbuhan
bisnis ritel di Indonesia pada 2013 diprediksikan tidak akan sebesar
tahun-tahun sebelumnya. Tahun 2013, pertumbuhan bisnis ini berkisar antara 8-9
persen, lebih rendah dari 11-12 persen pada 2011-2012.
Menurut Asosiasi Perusahaan Ritel
Indonesia (Aprindo), pertumbuhan bisnis ritel di Indonesia antara 10%–15% per
tahun. Penjualan ritel pada tahun 2006 masih sebesar Rp49 triliun, dan melesat
hingga mencapai Rp120 triliun pada tahun 2011. Sedangkan pada tahun 2012,
pertumbuhan ritel diperkirakan masih sama, yaitu 10%–15%, atau mencapai Rp138
triliun. Jumlah pendapatan terbesar merupakan kontribusi dari hipermarket,
kemudian disusul oleh minimarket dan supermarket
Kota dan Kabupaten Bogor sebagai
kawasan pemukiman penduduk yang merupakan daerah penyangga Jakarta, menjadi
salah satu daerah yang memiliki tingkat pertumbuhan pasar modern yang cukup
pesat selama periode tahun 1997- 2008. Dengan populasi penduduk terbesar di
Provinsi Jawa Barat, Kabupaten Bogor yang pada tahun 2007 jumlah penduduknya mencapai
4.316.216 jiwa, menjadi kawasan yang menjanjikan dalam perkembangan bisnis
ritel. Begitupun dengan Kota Bogor yang pada tahun 2007 jumlah penduduknya
mencapai 866.034 jiwa.
Penelitian ini menganalisis laju
pertumbuhan pasar tradisional dan pasar modern di Kota dan Kabupaten Bogor
serta faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan jumlah pasar modern di Kota
dan Kabupaten Bogor. Metode analisis yang digunakan adalah metode analisis
panel data menggunakan data sekunder berupa jumlah pasar modern dan tradisional,
populasi penduduk, jumlah rumah tangga, tingkat pendapatan per kapita, jumlah
jalan diaspal, potensi listrik negara (daya terpasang) di Kota dan Kabupaten
Bogor selama tahun 1997-2008. Hasil analisis menunjukan bahwa pertumbuhan pasar
modern di Kota Bogor pada periode tahun 1998-2003 lebih rendah dibandingkan
pertumbuhan pasar modern di Kabupaten Bogor. Sedangkan pada periode tahun
2003-2008, dimana era booming pasar modern mulai berlangsung, pertumbuhan pasar
modern di Kota Bogor lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pasar modern di
Kabupaten Bogor.
8
Jumlah pasar tradisional di Kota
Bogor pada periode tahun 1998-2003 mengalami pertumbuhan positif sedangkan di
Kabupaten Bogor mengalami pertumbuhan yang stagnan atau tidak terjadi
pertumbuhan pasar tradisional pada periode tersebut. Namun pada periode tahun
2003-2008 pertumbuhan pasar tradisional di Kota Bogor mengalami pertumbuhan
yang negatif. Sedangkan pertumbuhan pasar tradisional di Kabupaten Bogor pada
periode tahun 2003-2008 mengalami pertumbuhan yang positif, dimana jumlah pasar
tradisional bertambah sebanyak satu unit pada periode tersebut. Faktor yang
berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap pertumbuhan pasar modern di
Kota dan Kabupaten Bogor adalah populasi penduduk, jumlah rumah tangga dan
tingkat pendapatan per kapita. Kenaikan pada populasi penduduk, jumlah rumah
tangga, dan pendapatan per kapita di Kota dan Kabupaten Bogor menyebabkan
jumlah pasar modern di Kota dan Kabupaten semakin meningkat.
Oleh karena itu, bisnis retail sangatlah
berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional. Karena penghasilan
dari suatu bisnis retail, terlebih bisnis retail modern dapat membantu
pendapatan jumlah per-kapita pada suatu daerah tertentu. Pendapatan per kapita
adalah besarnya pendapatan rata-rata penduduk di suatu negara. Pendapatan per
kapita didapatkan dari hasil pembagian pendapatan nasional suatu
negara dengan jumlah penduduk negara tersebut. Pendapatan per kapita juga
merefleksikan PDB per kapita Pendapatan per kapita sering digunakan
sebagai tolok ukur kemakmuran dan tingkat pembangunan sebuah negara
semakin besar pendapatan per kapitanya, semakin makmur negara tersebut.
Meningkatnya jumlah pendapatan
perkapita itu dapat membantu suatu daerah untuk membangun kualitas SDM yang
terdapat di sana. Serta beberapa persen pendapatan bisnis retail tersebut dapat
disalurkan ke pendapatan nasional.
Di jawa timur,
lebih dari 16% hasil dari penjualan pada bisnis retail disumbangkan untuk
pendapatan nasional. Padahal Jwa Timur bukan kota besar dan jumlah bisnis
retail di sana tidaklah begitu banyak. Bayangkan berapa banyak hasil yang
dihasilkan oleh kota besar seperti Jakarta untuk disumbangkan ke dalam
pendapatan nasional. Bahkan sekarang banyak bisnis retail asing yang menanam
saham di Indonesia. Maraknya bisnis retail ini di Indonesia dapat membantu
pertumbuhan ekonomi di daerah maupun nasional.
Generally, the operation of modern market at
Pekalongan city has impact towards tradisional market. The aim of this research
is to detect the impact of modern market operation towards traditional market
tradesman income. The sample of the research are 150 tradesman at traditional
market that predicted has an impact from modern market “Sri Ratu Mega
Center/Carrefour Pekalongan”. The analysis model is two related sample
comparation by using the wilcoxon sign test for detected the difference of
traditional market tradesman income before operation and after operations the
modern market at Pekalongan city. The analysis show that data have not normal distribution (cause the kolmogorov smirnov test has the
value asymp sig (2-tailed) less than 0,05, and the wilcoxon sign test value
asymp sig (2-tailed) 0,00 less than 0,05. The result show that the traditional
market tradesman income has the difference among before and after operation of
modern market Althought there is a difference income, but in detail, only 39
tradesman (from 150 sample) have influenced by modern market, and 111 tradesman
have no in influenced. The conclusion is the operation of modern market at
Pekalongan has no influencing to traditional market tradesman income, and there
the reality that “temporary market” have more influence
The keyword Traders Market Modern, Traditional Markets, Income
9
Analisis
Dampak Positif Munculnya toko modern Sri Ratu Mega Center/Carrefour di Kota
Pekalongan tentu saja dapat memberikan beberapa dampak baik yang bersifat positif maupun
negatif. Melalui kajian ini dapat
dianalisis beberapa dampak positif yang timbul, yang dapat disebutkan sebagai
berikut :
1). Munculnya Sri Ratu Mega Center/Carrefour tentu saja akan
memberikan dampak bagi peningkatan
kapasitas dan pembangunan ekonomi Kota Pekalongan, seperti : a. Iklim investasi
semakin terbuka, yang pada gilirannya tentu hal ini akan membawa Kota Pekalongan
menjadi lebih mandiri lagi sebagai daerah otonom. b. Dengan munculnya Sri Ratu Mega
Center/Carrefour akan berdampak pada peningkatan penerimaan pajak dan/atau
retribusi daerah, sehingga akan meningkatkan PAD. c. Munculnya Sri Ratu Mega
Center/Carrefour juga akan berdampak positif terhadap peningkatan pendapatan
masyarakat karena pemanfaatan peluang- peluang yang timbul dari multiplier
effecct.
2). Sebagai dampak banyaknya konsumen yang berbelanja ke Sri Ratu
Mega Center/ Carrefour tentu akan memunculkan
peluang bagi pedagang- pedagang kecil yang bisa berjualan disekitar lokasi Sri
Ratu Mega Center/Carrefour ( multiplier effecct ). Oleh karena itu para
pedagang kecil bisa memanfaatkan peluang baru ini dengan berjualan di lokasi
yang disediakan.
3). Dampak positif lainnya akan terjadi pada bidang transportasi,
karena banyaknya konsumen yang berasal dari daerah diluar Kota Pekalongan.
Analisis Dampak Negatif Dampak negatif yang
selalu dikhawatirkan oleh berbagai pihak seperti para pedagang pasar tradisional,
pedagang diluar pasar tradisional, sementara ini adalah menurunnya pangsa pasar
pedagang, terutama di pasar tradisional.
Namun setelah dilakukan studi kajian ini bisa dijelaskan bahwa dampak
negatif yang terjadi hanya ada sedikit penurunan pada omset penjualan pedagang.
Pembahasan Secara umum bisa dikatakan bahwa
pembukaan toko modern Sri Ratu Mega Center/Carrefour di Kota Pekalongan tidak
banyak berpengaruh terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat khususnya bagi
para pedagang pasar tradisional. Para pedagang baik yang berada
dalam pasar- pasar tradisional maupun di luar pasar sebagian besar menyatakan
bahwa mereka punya segmen pasar khas tersendiri, yang tidak terpengaruh oleh
pembukaan Sri Ratu Mega Center/Carrefour. Mereka tidak ambil pusing apakah di
Kota Pekalongan akan menambah toko modern atau tidak, toh menurut mereka tidak
banyak berpengaruh terhadap usahanya. Normalitas Data. Untuk mengetahui apakah
data berdistribusi normal atau tidak, dilakukan uji normalitas data dengan
menggunakan uji kolmogorov-smirnov.
Data berdistribusi normal apabila nilai Asymp. Sig. (2-tailed)
nilainya lebih besar dari 0,05 sebesar alpha. Dari tabel One- Sample
Kolmogorov-Smirnov Test dapat diketahui bahwa nilai Asym. Sig. (2- tailed) baik
sebelum dan sesudah adanya pasar modern semua diabawah 0,05, sehingga data
tersebut tidak berdistribusi normal, maka alat statistik yang digunakan adalah
statistik non-parametrik.
Uji Komparasi Karena dari uji normalitas data nilai Asym. Sig.
(2-tailed) nilainya lebih kecil dari 0,05, maka data tidak berdistribusi
normal, dan alat statistik yang digunakan adalah statistik non-parametrik yaitu
Wilcoxon Sign Test.
10
11
BAB V
KESIMPULAN
DAN SARAN
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan.
Dari table Test Statistics(b), dari wilcoxon sign test, maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan
pendapatan pedagang pasar tradisional antara sebelum dan sesudah adanya pasar
modern, walapun dari ranks dapat dilihat bahwa dari 150 orang pedagang hanya 39
yang terpengaruh dan sisanya 111 pedagang pasar tradisional tidak terpengaruh
oleh kehadiran pasar modern. Sehingga apabila dilihat secara deskriptip
sebetulnya kehadiran pasar modern tidak begitu kuat berpengaruh terhadap
pendapatan para pedagang pasar tradisional di kota Pekalongan karena hanya
mempengaruhi 39 pedagang dari 150 pedagang pasar tradisional sebagai sampel
atau sekitar 26% saja.
Bisnis Retail terbagi menjadi dua macam, yaitu bisnis retail
tradisional dan modern. Namun terjadi persaingan pada ritel tradisional
dan ritel modern, berbeda dengan jenis persaingan yang lain, yaitu persaingan
antar sesama ritel modern, persaingan antar sesama ritel tradisional, dan
persaingan antar suplier, telah sejak awal menempatkan ritel tradisional pada
posisi yang lemah.
Perbedaan karakteristik yang berbanding terbalik semakin
memperlemah posisi ritel tradisional. Penguatan kemampuan bersaing ritel
tradisional dengan demikian menuntut peran serta banyak
pihak terutama pemerintah sebagai pemilik kekuasaan regul
Bisnis retail sangatlah berpengaruh terhadap pertumbuhan
perekonomian daerah bahkan nasional. Pada daerah-daerah atau kota-kota besar
seperti Jakarta maupun Jawa timur dan Bogor, bisnis retail sangatlah
berpengaruh pada pertumbuhan perekonomian daerah bahkan nasional. Karena hasil
dari penghasilan pada bisnis retail tersebut, terlebih pada bisnis retail
modern dapat membantu tingkat pendapatan per-kapita daerah tersebut. Bahkan
Jawa Timur menyumbangkan 16% dari penghasilan bisnis retailnya untuk
pendapatan nasional.
Maka daripada itu bisnis retail sangatlah menjanjikan dan
berpengaruh bagi pertumbuhan perekonomian daerah bahkan nasional untuk
meningkatkan pendapatan per-kapita daerahnya. Serta membuka lapangan pekerjaan
yang membantu meningkatkan kualitas SDM di daerah tersebut.
Saran
Dari kesimpulan dapat dilihat bahwa secara deskriptif kehadiran
pasar modern di kota Pekalongan hanya 26% saja mempengaruhi pendapatan pedagang
pasar tradisional, oleh sebab itu perlu dicari akar permasalahan mengapa ada
penurunan pendapatan pedagang, misalnya penurunan pendapatan mereka dipengaruhi
adanya pasar tiban yang lagi marak di kota Pekalongan dan sekitarnya.
12
BAB VI
DAFTAR PUSTAKA
1.7 DAFTAR PUSTAKA
1
Anonim, 2006, , Penelitian Dampak Keberadaan Pasar Modern
(Supermarket dan Hypermarket) Terhadap Usaha Ritel Koperasi/Waserda dan Pasar
Tradisional,
2
Anonim, 2007, Kajian Dampak Ekonomi Keberadaan Hypermarket
Terhadap Ritel/Pasar Tradisional, Jurnal Pengkajian Koperasi dan UKM Nomor 1
Tahun. www..Smecda.com/kajian/files/jurn al/hal_85/pdf
3
Daniel Suryadarma dkk,
2007, Dampak Supermarket Terhadap Pasar dan Pedagang Ritel/Tradisional di
Daerah Perkotaan di Indonesia, Lembaga penelitian SMERU. www..Smeru.or.id/report/research/s
upermarket/Supermarket_ind.pdf Daniel,
4
Wahyu, 2007, Peran Pasar Tradisional memudar, DPD Tuding Pemodal
Besar, Detiknet, Jakarta http://jkt6a.detikspot.com/read/2007
/08/23/105431/820634/4/peran- pasar-tradisional-memudar-dpd- tuding-pemodal-besar
Ekapribadi,
5
Wildan, 207, Pasar Modern :
Ancaman Bagi Bagi Pasar Tradisional ?, Jakarta.
http://amartabisma.wordpress.com/ 2007/11/8//pasar-modern-ancaman- bagi
–pasar-tradisional/ Indrakh, 2007, Pasar Tradisioanal di Tengah Kepungan Pasar
Modern, http://indrakh.wordpress.com/2007/ 09/03/pasar-tradisional-di-tengah-
kepungan-pasar-modern/
6
Jurnal Penelitian Koperasi dan UKM Nomor 1 tahun 2006 : Penelitian
Dampak Keberadaan Pasar Modern (Supermarket & Hipermarket) Terhadap Usaha
Ritel Koperasi/Waserba dan Pasar Tradisional.
http://www.smecda.com/kajian/files/ jurnal/Hal_85.pdf
7
Mudradjat Kuncoro, 2008,
Strategi Pengembangan Pasar Modern dan Tradisional, Kadin Indonesi
www.mudrajad.com/.../pasr%20mo dern%20tradisional-KADIN-107- 2998-18072008.
8
pdf Marten Rapael Hutabarat, 2009, Dampak Kehadiran Pasar Modern
Brastagi Supermarket Terhadap Pasar Tradisional SEI Sikambing di Kota Medan,
Universitas Sumatera Utara Medan. Images.sugengsantoso5ka17.multipl
y.multiplycontent.com/.../4/artikel% 20ekonomi.doc?......
9
Suliyanto, 2009, Praktikum Analisis Statistik, Magister Sains
Ekonomi Manajemen, Universitas Jenderal Sudirman, Purwokerto
10
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 112 Tahun 2007 Tentang
Penataan Dan Pembinaan Pasar Tradisional Pusat Perbelanjaan Dan Toko Modern
Wikipedia, 2010.pasar http://id.wikipedia.org/wiki/pasar Pasar Tiban Membuat
Pendapatan Pasar Tradisional Menurun, http://www.rasikafm.net/.../index.ph p ?
11
pasar tiban membuat
pendapatan pasar tradisional menurun Siti Nurhayti, dkk, 2010, Studi Kajian
Soaial Ekonomi Pendirian Toko Modern Carrefour di Kota Pekalongan, Fakultas
Ekonomi Universitas Pekalongan.
13
