news studentsite

Kamis, 20 Maret 2014

Makalah Bisnis





SRI RATU MEGA CENTRE PEKALONGAN




 

  


i



DAFTAR ISI


JUDUL ............................. i
Daftar isi ............................ ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang .........................................................................1
1.2  Tujuan penelitian......................................................................2

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS
2.1  Landasan teori............................................................................3
2.2  Sejarah .......................................................................................4

BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Pengumpulan data ...................................................................... 6
3.2 Penentuan Sampel ...................................................................... 6
3.3 Teknik Analisis .......................................................................... 6

BAB IV Pembahasan dan hasil penelitian  ....................................... 7

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ............................................ 12

BAB VI DAFTAR PUSTAKA .......................................................... 13






ii


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Globalisasi  dan  kondisi  ekonomi  beberapa  tahun  terakhir  telah mendorong pertumbuhan usaha pasar modern  yang pesat,  terutama  bisnis  ritel  modern di  kota-kota  besar.  Usaha  ritel  dan pasar  modern merupakan usaha  yang sangat  diminati oleh  kalangan dunia usaha karena perannya yang sangat strategis, yang tidak saja menyangkut kepentingan produsen,  distributor  dan  konsumen  juga  perannya  dalam  menyerap  tenaga  kerja, sarana  yang  efisien  dan  efektif  dalam  pemasaran  hasi  produksi,  sekaligus dapat digunakan untuk  mengetahui image  dari  suatu produk  di  pasar,  termasuk  preferensi yang dikehendaki oleh pihak konsumen. Munculnya pasar-pasar dan toko modern tersebut menjadi salah satu indikator keberhasilan daerah dalam meningkatkan kapasitas perkonomian daerah. Namun tentu saja keberadaan pasar dan toko modern tersebut akan berakibat pada ketatnya persaingan diantara pelaku usaha yang ada, sehingga pengaturannya harus selaras dengan kebijakan-kebijakan yang sudah ada agar tidak terjadi dampak negatif terutama bagi pelaku usaha kecil yang ada.  Beberapa kalangan menganggap bahwa dengan memperluas pendirian pasar modern bisa berdampak pada makin baiknya pertumbuhan ekonomi dan iklim investasi,
serta meningkatnya pendapatan daerah melalui pajak dan retribusi daerah. Secara konseptual, banyak kalangan yang mengasumsikan bahwa antara pasar modern dan pasar tradisional memiliki segmen pasar yang berbeda.  Akan tetapi kenyataannya tidaklah demikian karena justru segmen pasar modern dan pasar tradisional adalah sama dan mereka bersaing secara bebas. Akibatnya, tentu saja pasar tradisional yang kalah karena beberapa keunggulan yang ada pada pasar modern seperti bisa menjual produk dengan harga yang lebih murah, kualitas produk terjamin, kenyamanan berbelanja, dan banyaknya pilihan cara pembayaran. Untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya dampak negatif bagi pelaku usaha kecil – menengah, pemerintah telah mengatur beroperasinya pelaku-pelaku perdagangan melalui Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern; yang kemudian ditindak lanjuti dengan pedoman pelaksanaan dengan Peraturan Menteri Perdagangan nomor 53/M- Dag/Per/12/2008 tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern.  Regulasi ini hendaknya benar-
31
benar ditaati oleh pelaku-pelaku perdagangan khususnya untuk pasar/toko modern. Banyak kalangan yang mengasumsikan bahwa antara pasar modern dan pasar tradisional memiliki segmen pasar yang berbeda.  Akan tetapi kenyataannya tidaklah demikian karena justru segmen pasar modern dan pasar tradisional adalah sama dan mereka bersaing secara bebas. Akibatnya, tentu saja pasar tradisional yang kalah karena beberapa keunggulan yang ada pada pasar modern seperti bisa menjual produk dengan harga yang lebih murah, kualitas produk terjamin, kenyamanan berbelanja, dan banyaknya pilihan cara pembayaran. Oleh karena itu masalah pokok yang hendak dikaji melalui penelitian ini adalah apakah terdapat perbedaan pendapatan pedagang pasar tradisional antara sebelum dan sesudah adanya pasar modern Sri Ratu Mega Center/Carrefour Pekalongan. Tujuan pada penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak dari kehadiran pasar modern Sri Ratu Mega Center/Carrefour terhadap pendapatan pedagang pasar tradisional di kota Pekalongan. Adapun manfaat dari penelitian ini adalah dapat memberikan informasi kepada para pelaku ekonomi di
Pekalongan khususnya pedagang pasar tradisional mengenai dampak yang ditimbulkan dengan beroperasiny pasar modern disekitar pasar tradisional yang telah ada. Keberadaan pasar, khusunya pasar tradisional, merupakan salah satu indikator paling nyata kegiatan ekonomi masyarakat disuatu wilayah. Pemerintah harus memperhatikan  keberadaan pasar tradisional sebagai salah satu sarana publik yang mendukung kegiatan ekonomi masyrakat. Perkembangan jaman dan perubahan gaya hidup yang dipromosikan begitu hebat oleh berbagai media

1

 dalam berbagai bentuk. (Indrakh, 2007). Maraknya pembangunan pasar modern membuat pedagang pasar tradisional tidak mampu bertahan. Beberapa berita terbaru dimedia masa mengatakan bahwa tidak sedikit pasar tradisional yang tersebar di pelosok Indonesia kolaps, hal ini diduga akibat dari pembangunan pasar modern di Indonesia yang semakin marak. Dari berbagai hasil penelitian yang penulis kutip, kondisi usaha dan kinerja pasar
32
tradisional menunjukkan penurunan setelah beroperasinya pasar modern. Ini diantaranya menyangkut kinerja : aset, omset penjualan, perputaran barang dagangan dan keuntungan serta pendaapatan pedagang tradisional. Hal diatas memberikan keinginan bagi penulis untuk mengangkatnya dalam penelitian, dengan tujuan untuk mengetahui dampat dari pasar modern terhadap pendapatan pedagang tradisional di kota Pekalongan juga untuk membuktikan dampak pasar pasar modern terhadap pendapatan pedagang pasar tradisional di kota Pekalongan. Mendasarkan pada kondisi dan identifikasi masalah, maka dapat diambil suatu hipotesis yaitu : Terdapat perbedaan pendapatan yang diperoleh pedagang pasar tradisional antara sebelum dan setelah adanya pasar modern di kota Pekalongan.


1.2  TUJUAN
1.      Mengetahui pengertian tentang bisnis ritel yang ada disuatu daerah ?
2.      Mengetahui sejarah bisnis ritel tersebut ?
3.      Bisnis ritel yang sangat signifikan terhadap perkembangan konsumen ?
4.       mengetahui pengertian pendapatan asli daerah dan pendapatan nasional ?
5.      mengetahui pendapatan bisnis ritel itu dalam daerah tersebut ?
6.      dan mengetahui seberapa pendapatan daerah yang berpengaruh pada pendapatan nasional ?
  










 2

  



 
 BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS

2.1 Landasan teori
Bisnis Ritel secara umum adalah kegiatan usaha menjual aneka barang atau jasa untuk konsumsi langsung atau tidak langsung. Dalam matarantai perdagangan bisnis ritel merupakan bagian terakhir dari proses distribusi suatu barang atau jasa dan bersentuhan langsung dengan konsumen.
Bisnis Ritel di Indonesia sebenarnya terbagi menjadi dua, yaitu Ritel Tradisional dan Ritel Modern. Namun seiring berjalannya waktu, ritel tradisional banyak ditinggalkan oleh para konsumen. Sehingga peningkatan bisnis ritel modern di Indonesia melonjak tajam.

Adapun perbedaan bisnis retail tradisional dengan bisnis retail modern adalah bisnis retail tradisional adalah bisnis yang dibangun dan dikelola oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, Swasta, Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah termasuk kerjasama dengan swasta dengan tempat usaha berupa toko, kios, los dan tenda yangdimiliki/dikelola oleh pedagang kecil, menengah, swadaya masyarakat atau koperasi dengan usaha skala kecil, modal kecil dan dengan proses jual beli barang dagangan melalui tawar menawar. Seperti pasar tradisional, toko kelontong, dan lain-lain. Sedangkan bisnis retail modern berdasarkan definisi yang tertuang dalam Keputusan Presiden RI No. 112/Th. 2007

Pendapatan Asli Daerah adalah salah satu sumber penerimaan yang harus selalu terus menerus di pacu pertumbuhannya. Dalam otonomi daerah ini kemandirian pemerintah daerah sangat dituntut dalam pembiayaan pembangunandaerah dan pelayaan kepada masyarakat. Oleh sebab itu pertumbuhan investasidi pemerintah kabupaten dan kota perlu diprioritaskan karenadiharapkan memberikan dampak positif terhadap peningkatan perekonomianregional.Menurut Halim (2004: 67), "Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakansemua penerimaan daerah yang berasal dari sumber ekonomi asli daerah.Pasal 157 UU No. 32 Tahun 2004 dan Pasal 6 UU No. 33 Tahun 2004menjelaskan bahwa sumber Pendapatan Asli Daerah terdiri:1. Pajak Daerah,2. Retribusi Daerah,3. Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan,4. Lain-lain Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang sah.Menurut Undang-Undang No. 33 Tahun 2004, Pasal 1, .Pendapatan AsliDaerah adalah penerimaan yang diperoleh daerah dari sumber-sumber di dalamdaerahnya sendiri yang dipungut berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.. Pendapatan Asli Daerah merupakansumber penerimaan daerah yang asli digali di daerah yang digunakan untuk modaldasar pemerintah daerah dalam membiayai pembangunan dan usaha-usaha daerahuntuk memperkecil ketergantungan dana dari pemerintah pusat.Menurut Mardiasmo (2002: 132), Pendapatan Asli Daerah adalah penerimaandaerah dari sektor pajak daerah, retribusi daerah, hasil perusahaan milik daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain-lain Pendapatan Asli Daerahyang sah.

Pendapatan nasional adalah jumlah pendapatan yang diterima oleh seluruh rumah tangga keluarga (RTK) di suatu negara dari penyerahan faktor-faktor produksi dalam satu periode,biasanya selama satu tahu
3


2.2 SEJARAH
Pasaraya Sri Ratu Pekalongan didirikan pertama kali pada tahun 1990 sebagai cabang ke-4 Sri Ratu group, berlokasi di komplek Batik Plaza di jalan merdeka no.22 Pekalongan.Tahun 1994, Sri Ratu mengalami musibah kebakaran.
Tahun 1996,Pasaraya Sri Ratu Pekalongan mulai kembali hadir setelah dipugar dan melakukan Grand Opening pada tanggal 01 Januari 1996. Bila sebelumnya hanya 3 lantai, maka setelah pembangunan kembali, Pasaraya Sri ratu bertambah 1 lantai menjadi 4 lantai.
Seiring dengan berjalannya waktu , Pasaraya Sri ratu sebagai perintis pasar modern dikota Pekalogan kian berkembang.Selain itu bisnis retail yang menjadi pesaing kian bermunculan,dimulai dengan MATAHARI,BOROBUDUR bahkan adik cabang,SRI RATU MEGA CENTER .Pasaraya Sri Ratu Pekalongan TERBUKTI sebagai perusahaan lokal yang dapat bersaing dengan perusahaan asing dan menjadi kebanggan warga Pekalongan .Semua itu berkat dukungan warga Pekalongan.       

Pasar Raya Sri Ratu:Pionir Pusat Perbelanjaan Modern di Semarang
Boleh dibilang Pasar Raya Sri Ratu adalah raja ritel dari Jawa Tengah. Bagaimana tidak, selain
kepeloporannya, dalam bisnis pusat perbelanjaan modern yang dirintis sejak tahun 1970-an,
gerainya juga terus beranak pinak. Dari Semarang, gerai Sri Ratu merambah ke Purwokerto,
Tegal, Pekalongan, bahkan meluas hingga ke Jawa Timur, yakni di Kediri dan Madiun.
Hebatnya, meski belakangan jaringan hypermarket dan supermarket asal Jakarta agresif
menyerbu Semarang, Sri Ratu tetap eksis. Lihat saja kehadiran gerai Carrefour, Hypermart,
Makro, Matahari Department Store, dan Alfa Supermarket yang menambah marak persaingan
bisnis ritel di ibu kota Ja-Teng itu. Namun, entah mengapa justru beberapa peritel besar yang
menjadi kompetitor Sri Ratu itu malah limbung.

âہ“Sebenarnya kami sempat grogi juga dikepung oleh peritel kakap dari Jakarta. Apalagi
beberapa lokasi Sri Ratu head to head dengan peritel-peritel raksasa tersebut,â€Â tutur
Resturiadi Tresno Santoso yang membesut Sri Ratu bersama istrinya, Tutik Santoso.
Resturiadi memiliki jurus khusus agar Sri Ratu bisa memenangi persaingan. âہ“Kami
mengubah konsep Sri Ratu dari one stop shopping menjadi mal,â€Â ujar pria kelahiran
Yogyakarta tahun 1949 itu. Maka, di akhir tahun 2008 bos yang membawahkan 4.500 karyawan
ini memperluas tiga toko Sri Ratu menjadi mal, yakni gerai toko di Madiun, Tegal dan Kediri.
Kunci keberhasilan lainnya dalam mengelola Sri Ratu: tekun dan ulet. âہ“Yang jelas, kami
harus customer-oriented dan memberi pelayanan terbaik,â€Â kata Resturiadi yang juga
berbisnis ayam petelur di bawah payung PT Rehobat. Tidak kalah penting, kekuatan Sri Ratu
adalah memiliki relasi bisnis yang luas di luar negeri. Kolega-kolega inilah yang memasok aneka
rupa produk fashion-branded ke Sri Ratu.

Resturiadi mengisahkan cikal bakal kelahiran Sri Ratu. Mula-mula usahanya itu hanyalah toko kecil
biasa yang dibuka pada 1978. Ia dipaksa ayahnya untuk mandiri secara ekonomi dengan
membuka usaha toko. âہ“Awalnya saya bingung, toko ini mau diisi apa. Untunglah, ada
beberapa relasi saat saya menjadi salesman sepatu yang bersedia menjadi pemasok dengan
sistem pembayaran di belakang,â€Â ujarnya sembari mengutarakan, awalnya jumlah
pegawai yang digaji hanya 20 orang.

Tak dinyana, dalam perkembangannya toko itu menjadi besar. Dan, tahun 1986 bendera Sri Ratu
mulai dikibarkan dengan diikrarkan sebagai pusat perbelanjaan modern pertama yang sudah
berpendingin dan ada fasilitas eskalatornya. âہ“Betul, sebelum Sri Ratu sudah ada
supermarket Mickey Mouse. Tapi, supermarket itu belum ada AC dan eskalatornya,â€Â
Resturiadi menuturkan. Jadi, ia menegaskan, Sri Ratu-lah yang menjadi pionir pusat perbelanjaan
modern ber-AC dan memiliki tangga berjalan yang otomatis.
4

Gerai Sri Ratu yang perdana di Semarang dibangun setinggi empat lantai dengan masing-masing
lantai seluas 1.500 m2. Dengan konsep one stop shopping kala itu, Sri Ratu terdiri dari
department store, supermarket, kafetaria dan arena bermain anak-anak.
Ketika membangun Sri Ratu, Resturiadi mengaku tidak semata-mata mengejar untung, melainkan
juga membawa misi pemberdayaan ekonomi dari Pemda Semarang. Mereka menginginkan adanya
pembangunan pusat perbelanjaan yang bisa menjadi lokomotif ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Itulah sebabnya pembangunan Sri Ratu didukung penuh oleh Bank Pembangunan Daerah Jateng.
âہ“Tujuannya memang untuk lebih menghidupkan dan menjadi lokomotif ekonomi Kota
Semarang,â€Â ia menambahkan.

Sewaktu pertama diperkenalkan, Sri Ratu sempat menimbulkan pro dan kontra. Kala itu, banyak
yang pesimistis bahwa Sri Ratu akan bertahan lama dengan penampilannya yang megah dan
modern. â€Â Orang-orang menganggap cost kami akan tinggi, sehingga tidak bisa ditutup
dengan omset penjualan,â€Â papar Resturiadi. Toh, faktanya tidak demikian. Malahan, Sri
Ratu terus mengepakkan sayap bisnisnya.

Setelah sukses di Semarang, setiap dua tahun muncullah cabang Sri Ratu di tempat lain. Selain
menambah gerai di Semarang, tepatnya di kawasan Peterongan, Sri Ratu merambah pula ke kotakota
lain. Sekadar informasi, ekspansi Sri Ratu keluar kota Semarang ternyata sebagian besar
atas permintaan dari pemda setempat yang menginginkan daerahnya maju. âہ“Meski kami
diminta, tidak ada fasilitas khusus, kecuali kemudahan perizinan,â€Â ucap bapak dua anak
5




BAB III
METODE PENELITIAN

METODE PENELITIAN.

3.1 Pengumpulan data
. Dalam penelitian Dampak Operasi Pasar Modern Terhadap Pendapatan Pedagang Pasar Tradisional Di Kota Pekalongan dibutuhkan data primer tetapi juga data sekunder, sebagai data pendukung dalam penelitian ini.  Data primer dikumpulkan dengan guided interview dimana responden yang ditemui diberi kebebasan mengemukakan jawaban atas kuesioner yang diberikan dengan panduan oleh surveyor sedangkan tehnik pengambilan sampling dengan menggunakan acidental sampling yaitu setiap responden nyang ditemui dan bersedia dijadikan responden mereka dipersilahkan menjawab daftar pertanyaan yang telah disediakan. Sedangkan data sekunder dibutuhkan untuk mengetahui gambaran umum wilayah penelitian.

3.2 Penentuan Sampel Agar analisis dapat dilakukan secara akurat, maka diperlukan sampel dari pelaku dunia usaha yang memiliki kepentingan terhadap penelitian tentang Dampak Operasi Pasar Modern terhadap Pendapatan Pedagang Pasar Tradisional di Kota Pekalongan. Untuk itu ditetapkan sampel sebanyak 150 responden, yang merupakan pelaku pasar tradisional dikota Pekalongan yang terletak disekitar pasar modern dalam hal ini adalah Sri Ratu Mega Center/Carrefour yang terdiri dari : pasar Podosugih, pasar Grogolan, pasar Anyar,  dan pasar Banyu Urip serta beberapa pedagang yang berada disekitar pasar tersebut.

3.3 Teknik Analisis. Untuk menganalisis dampak beroperasinya pasar modern terhadap pendapatan pedagang pasar tradisional di kota Pekalongan dilakukan dengan menguji apakah ada perbedaan pendapatan yang diterima pelaku pasar tradisional sebelum dan sesudah adanya pasar modern. Pengujian dilakukan dengan langkah : a. Melakukan analisis diskriptif terhadap dampak yang ditimbulkan dengan adanya pasar modern yaitu Sri Ratu Mega Center/Carrefour bagi pendapatan pedagang pasar tradisonal yang berada disekitar pasar modern tersebut baik dampak positip maupun negatif. b. Menguji normalitas data, yaitu untuk menguji apakah data yang tersedia berdistribusi normal atau tidak dengan menggunakan Kolmogorov-Smirnov. Hal ini dilkaukan untuk menentukan alat statistik yang digunakan apakah parametrik atau non parametrik. c. Melakukan uji komparasi dua sample berpasangan, yaitu untuk menguji apakah ada perbedaan pendapatan yang diterima pelaku pasar tradisional sebelum dan sesudah adanya pasar modern. Pengujian menggunakan Paired Sample Test apabila datanya berdistribusi normal dan Wilcoxon Sign Test apabila datanya tidak berdistribusi normal.



6


  
BAB IV
PEMBAHASAN

PEMBAHASAN


Banyak perbedaan yang dihadirkan bisnis rital tradisional maupun bisnis ritail modern. Sehingga kini di kabupaten atau kota bahkan desa di Indonesia, “bisnis retail” terlebih bisnis ritel modern mulai banyak dilirik kalangan pengusaha, sebab memiliki pengaruh positif terhadap jumlah lapangan pekerjaan dan keuntungannya yang menjanjikan.

Dalam 6 tahun terakhir, perkembangan ketiga format modern market di atas sangatlah tinggi. konsepnya yang modern, adanya sentuhan teknologi dan mampu memenuhi perkembangan gaya hidup konsumen telah memberikan nilai lebih dibandingkan dengan market tradisional. Selain itu atmosfer belanja yang lebih bersih dan nyaman, semakin menarik konsumen dan dapat menciptakan budaya baru dalam berbelanja.

Munculnya konsep ritel baru seperti hipermarket, supermarket, dan minimarket, yang termasuk ke dalam jenis ritel modern (pasar modern) merupakan peluang pasar baru yang dinilai cukup potensial oleh para pebisnis ritel, namun dilain sisi dapat mengancam keberadaan pasar tradisional yang belum dapat bersaing dengan pasar modern terutama dalam hal manajemen usaha dan permodalan. Dari waktu ke waktu jumlah pasar modern cenderung mengalami pertumbuhan positif sedangkan pasar tradisional cenderung mengalami pertumbuhan negatif.


Dalam periode enam tahun terakhir, dari tahun 2007–2012, jumlah gerai ritel modern di Indonesia mengalami pertumbuhan rata-rata 17,57% per tahun. Pada tahun 2007, jumlah usaha ritel di Indonesia masih sebanyak 10.365 gerai, kemudian pada tahun 2011 mencapai 18.152 gerai tersebar di hampir seluruh kota di Indonesia. Pertumbuhan jumlah gerai tersebut tentu saja diikuti dengan pertumbuhan penjualan.
Untuk penyebaran toko, paling banyak di Pulau Jawa dengan 57 persen, dan Sumatera dengan 22 persen, sisanya 21 persen ada di pulau lain. Bisnis ritel lebih cepat tumbuh di pinggiran kota, karena banyaknya pemukiman di lokasi tersebut. Daerah inilah yang menjadi target dari ritel modern jenis minimarket.
Berdasarkan sebaran geografisnya, gerai-gerai Pasar Modern tersebut terkonsentrasi di Pulau Jawa. Pada 2008, dari sekitar 11.866 gerai Pasar Modern, sekitar 83% diantaranyaberlokasi di Pulau Jawa (Tabel 4). Propinsi DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur senantiasa menjadi daerah dengan jumlah gerai Pasar Modern terbanyak. Terkonsentrasinya gerai-gerai Pasar Modern di Pulau Jawa tidak lepas dari kondisi dimana konsentrasi penduduk dan pusat perekonomian Indonesia memang berada di pulau ini
7
Menurut survei Nielsen dalam Hartati (2006), jumlah pusat perdagangan modern di Indonesia, baik hipermarket, supermarket, minimarket, hingga convenience store, meningkat hampir 7,4% selama periode 2003-2005. Dari total 1.752.437 gerai pada tahun 2003 menjadi 1.881.492 gerai di tahun 2005. Hal tersebut justru berbanding terbalik dengan pertumbuhan ritel tradisional yang tumbuh negatif sebesar delapan persen per tahunnya selama periode tahun 2003-2005.
Sekalipun mengalami penurunan jumlah toko yang menjual barang-barang konsumen sebesar 1,3 persen dari tahun 2010, jumlah toko di Indonesia merupakan terbesar kedua di dunia setelah India. Jumlah toko (tradisional dan modern) di Indonesia mencapai 2,5 juta took hal ini dikutip dari Nielsen Executive Director Retail Measurement Services Teguh Yunanto pada tanggal 15/3/2011.
Untuk penyebaran toko, paling banyak di Pulau Jawa dengan 57 persen, dan Sumatera dengan 22 persen, sisanya 21 persen ada di pulau lain. Namun, Teguh menjelaskan, ritel lebih tumbuh di pinggiran kota, mengingat lokasi permukiman banyak di daerah tersebut. Daerah inilah yang menjadi target dari ritel modern jenis minimarket.
Ritel modern tumbuh 38 persen dengan 18.152 toko di Indonesia, dibandingkan tahun 2009. Dari jumlah tersebut, sekitar 16.000 toko merupakan minimarket. Namun format ritel modern lainnya, seperti supermarket justru turun 6 persen, sedangkan hypermarket tumbuh 23 persen dengan 154 toko
Meskipun dinilai memiliki potensi besar seiring daya beli masyarakatnya yang semakin meningkat, pertumbuhan bisnis ritel di Indonesia pada 2013 diprediksikan tidak akan sebesar tahun-tahun sebelumnya. Tahun 2013, pertumbuhan bisnis ini berkisar antara 8-9 persen, lebih rendah dari 11-12 persen pada 2011-2012.
Menurut Asosiasi Perusahaan Ritel Indonesia (Aprindo), pertumbuhan bisnis ritel di Indonesia antara 10%–15% per tahun. Penjualan ritel pada tahun 2006 masih sebesar Rp49 triliun, dan melesat hingga mencapai Rp120 triliun pada tahun 2011. Sedangkan pada tahun 2012, pertumbuhan ritel diperkirakan masih sama, yaitu 10%–15%, atau mencapai Rp138 triliun. Jumlah pendapatan terbesar merupakan kontribusi dari hipermarket, kemudian disusul oleh minimarket dan supermarket
Kota dan Kabupaten Bogor sebagai kawasan pemukiman penduduk yang merupakan daerah penyangga Jakarta, menjadi salah satu daerah yang memiliki tingkat pertumbuhan pasar modern yang cukup pesat selama periode tahun 1997- 2008. Dengan populasi penduduk terbesar di Provinsi Jawa Barat, Kabupaten Bogor yang pada tahun 2007 jumlah penduduknya mencapai 4.316.216 jiwa, menjadi kawasan yang menjanjikan dalam perkembangan bisnis ritel. Begitupun dengan Kota Bogor yang pada tahun 2007 jumlah penduduknya mencapai 866.034 jiwa.
Penelitian ini menganalisis laju pertumbuhan pasar tradisional dan pasar modern di Kota dan Kabupaten Bogor serta faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan jumlah pasar modern di Kota dan Kabupaten Bogor. Metode analisis yang digunakan adalah metode analisis panel data menggunakan data sekunder berupa jumlah pasar modern dan tradisional, populasi penduduk, jumlah rumah tangga, tingkat pendapatan per kapita, jumlah jalan diaspal, potensi listrik negara (daya terpasang) di Kota dan Kabupaten Bogor selama tahun 1997-2008. Hasil analisis menunjukan bahwa pertumbuhan pasar modern di Kota Bogor pada periode tahun 1998-2003 lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pasar modern di Kabupaten Bogor. Sedangkan pada periode tahun 2003-2008, dimana era booming pasar modern mulai berlangsung, pertumbuhan pasar modern di Kota Bogor lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pasar modern di Kabupaten Bogor.
8
Jumlah pasar tradisional di Kota Bogor pada periode tahun 1998-2003 mengalami pertumbuhan positif sedangkan di Kabupaten Bogor mengalami pertumbuhan yang stagnan atau tidak terjadi pertumbuhan pasar tradisional pada periode tersebut. Namun pada periode tahun 2003-2008 pertumbuhan pasar tradisional di Kota Bogor mengalami pertumbuhan yang negatif. Sedangkan pertumbuhan pasar tradisional di Kabupaten Bogor pada periode tahun 2003-2008 mengalami pertumbuhan yang positif, dimana jumlah pasar tradisional bertambah sebanyak satu unit pada periode tersebut. Faktor yang berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap pertumbuhan pasar modern di Kota dan Kabupaten Bogor adalah populasi penduduk, jumlah rumah tangga dan tingkat pendapatan per kapita. Kenaikan pada populasi penduduk, jumlah rumah tangga, dan pendapatan per kapita di Kota dan Kabupaten Bogor menyebabkan jumlah pasar modern di Kota dan Kabupaten semakin meningkat.
Oleh karena itu, bisnis retail sangatlah berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional. Karena penghasilan dari suatu bisnis retail, terlebih bisnis retail modern dapat membantu pendapatan jumlah per-kapita pada suatu daerah tertentu. Pendapatan per kapita adalah besarnya pendapatan rata-rata penduduk di suatu negara. Pendapatan per kapita didapatkan dari hasil pembagian pendapatan nasional suatu negara dengan jumlah penduduk negara tersebut. Pendapatan per kapita juga merefleksikan PDB per kapita Pendapatan per kapita sering digunakan sebagai tolok ukur kemakmuran dan tingkat pembangunan sebuah negara semakin besar pendapatan per kapitanya, semakin makmur negara tersebut.
Meningkatnya jumlah pendapatan perkapita itu dapat membantu suatu daerah untuk membangun kualitas SDM yang terdapat di sana. Serta beberapa persen pendapatan bisnis retail tersebut dapat disalurkan ke pendapatan nasional.
            Di jawa timur, lebih dari 16% hasil dari penjualan pada bisnis retail disumbangkan untuk pendapatan nasional. Padahal Jwa Timur bukan kota besar dan jumlah bisnis retail di sana tidaklah begitu banyak. Bayangkan berapa banyak hasil yang dihasilkan oleh kota besar seperti Jakarta untuk disumbangkan ke dalam pendapatan nasional. Bahkan sekarang banyak bisnis retail asing yang menanam saham di Indonesia. Maraknya bisnis retail ini di Indonesia dapat membantu pertumbuhan ekonomi di daerah maupun nasional.

Generally, the operation of modern market at Pekalongan city has impact towards tradisional market. The aim of this research is to detect the impact of modern market operation towards traditional market tradesman income. The sample of the research are 150 tradesman at traditional market that predicted has an impact from modern market “Sri Ratu Mega Center/Carrefour Pekalongan”. The analysis model is two related sample comparation by using the wilcoxon sign test for detected the difference of traditional market tradesman income before operation and after operations the modern market at Pekalongan city. The analysis show that data have not normal distribution  (cause the kolmogorov smirnov test has the value asymp sig (2-tailed) less than 0,05, and the wilcoxon sign test value asymp sig (2-tailed) 0,00 less than 0,05. The result show that the traditional market tradesman income has the difference among before and after operation of modern market Althought there is a difference income, but in detail, only 39 tradesman (from 150 sample) have influenced by modern market, and 111 tradesman have no in influenced. The conclusion is the operation of modern market at Pekalongan has no influencing to traditional market tradesman income, and there the reality that “temporary market” have more influence
The keyword Traders Market Modern, Traditional Markets, Income




9
 Analisis Dampak Positif Munculnya toko modern Sri Ratu Mega Center/Carrefour di Kota Pekalongan tentu saja dapat memberikan beberapa dampak  baik yang bersifat positif maupun negatif.  Melalui kajian ini dapat dianalisis beberapa dampak positif yang timbul, yang dapat disebutkan sebagai berikut :
1). Munculnya Sri Ratu Mega Center/Carrefour tentu saja akan memberikan dampak bagi  peningkatan kapasitas dan pembangunan ekonomi Kota Pekalongan, seperti : a. Iklim investasi semakin terbuka, yang pada gilirannya tentu hal ini akan membawa Kota Pekalongan menjadi lebih mandiri lagi sebagai daerah otonom.  b. Dengan munculnya Sri Ratu Mega Center/Carrefour akan berdampak pada peningkatan penerimaan pajak dan/atau retribusi daerah, sehingga akan meningkatkan PAD. c. Munculnya Sri Ratu Mega Center/Carrefour juga akan berdampak positif terhadap peningkatan pendapatan masyarakat karena pemanfaatan peluang- peluang yang timbul dari multiplier effecct.
2). Sebagai dampak banyaknya konsumen yang berbelanja ke Sri Ratu Mega Center/  Carrefour tentu akan memunculkan peluang bagi pedagang- pedagang kecil yang bisa berjualan disekitar lokasi Sri Ratu Mega Center/Carrefour ( multiplier effecct ). Oleh karena itu para pedagang kecil bisa memanfaatkan peluang baru ini dengan berjualan di lokasi yang disediakan.

3). Dampak positif lainnya akan terjadi pada bidang transportasi, karena banyaknya konsumen yang berasal dari daerah diluar Kota Pekalongan.
Analisis Dampak Negatif Dampak negatif yang selalu dikhawatirkan oleh berbagai pihak seperti para pedagang pasar tradisional, pedagang diluar pasar tradisional, sementara ini adalah menurunnya pangsa pasar pedagang, terutama di pasar tradisional.  Namun setelah dilakukan studi kajian ini bisa dijelaskan bahwa dampak negatif yang terjadi hanya ada sedikit penurunan pada omset penjualan pedagang.
Pembahasan Secara umum bisa dikatakan bahwa pembukaan toko modern Sri Ratu Mega Center/Carrefour di Kota Pekalongan tidak banyak berpengaruh terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat khususnya bagi
para pedagang pasar tradisional. Para pedagang baik yang berada dalam pasar- pasar tradisional maupun di luar pasar sebagian besar menyatakan bahwa mereka punya segmen pasar khas tersendiri, yang tidak terpengaruh oleh pembukaan Sri Ratu Mega Center/Carrefour. Mereka tidak ambil pusing apakah di Kota Pekalongan akan menambah toko modern atau tidak, toh menurut mereka tidak banyak berpengaruh terhadap usahanya. Normalitas Data. Untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak, dilakukan uji normalitas data dengan menggunakan uji kolmogorov-smirnov.
Data berdistribusi normal apabila nilai Asymp. Sig. (2-tailed) nilainya lebih besar dari 0,05 sebesar alpha. Dari tabel One- Sample Kolmogorov-Smirnov Test dapat diketahui bahwa nilai Asym. Sig. (2- tailed) baik sebelum dan sesudah adanya pasar modern semua diabawah 0,05, sehingga data tersebut tidak berdistribusi normal, maka alat statistik yang digunakan adalah statistik non-parametrik.
Uji Komparasi Karena dari uji normalitas data nilai Asym. Sig. (2-tailed) nilainya lebih kecil dari 0,05, maka data tidak berdistribusi normal, dan alat statistik yang digunakan adalah statistik non-parametrik yaitu Wilcoxon Sign Test.






10


11

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

SIMPULAN DAN SARAN
 Simpulan. Dari table Test Statistics(b), dari wilcoxon sign test,  maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan pendapatan pedagang pasar tradisional antara sebelum dan sesudah adanya pasar modern, walapun dari ranks dapat dilihat bahwa dari 150 orang pedagang hanya 39 yang terpengaruh dan sisanya 111 pedagang pasar tradisional tidak terpengaruh oleh kehadiran pasar modern. Sehingga apabila dilihat secara deskriptip sebetulnya kehadiran pasar modern tidak begitu kuat berpengaruh terhadap pendapatan para pedagang pasar tradisional di kota Pekalongan karena hanya mempengaruhi 39 pedagang dari 150 pedagang pasar tradisional sebagai sampel atau sekitar 26% saja.

Bisnis Retail terbagi menjadi dua macam, yaitu bisnis retail tradisional dan modern. Namun terjadi persaingan pada  ritel tradisional dan ritel modern, berbeda dengan jenis persaingan yang lain, yaitu persaingan antar sesama ritel modern, persaingan antar sesama ritel tradisional, dan persaingan antar suplier, telah sejak awal menempatkan ritel tradisional pada posisi yang lemah.

Perbedaan karakteristik yang berbanding terbalik semakin memperlemah posisi ritel tradisional. Penguatan kemampuan bersaing ritel tradisional dengan demikian menuntut peran serta banyak pihak terutama pemerintah sebagai pemilik kekuasaan regul


Bisnis retail sangatlah berpengaruh terhadap pertumbuhan perekonomian daerah bahkan nasional. Pada daerah-daerah atau kota-kota besar seperti Jakarta maupun Jawa timur dan Bogor, bisnis retail sangatlah berpengaruh pada pertumbuhan perekonomian daerah bahkan nasional. Karena hasil dari penghasilan pada bisnis retail tersebut, terlebih pada bisnis retail modern dapat membantu tingkat pendapatan per-kapita daerah tersebut. Bahkan  Jawa Timur menyumbangkan 16% dari penghasilan bisnis retailnya untuk pendapatan nasional.
Maka daripada itu bisnis retail sangatlah menjanjikan dan berpengaruh bagi pertumbuhan perekonomian daerah bahkan nasional untuk meningkatkan pendapatan per-kapita daerahnya. Serta membuka lapangan pekerjaan yang membantu meningkatkan kualitas SDM di daerah tersebut.

Saran
Dari kesimpulan dapat dilihat bahwa secara deskriptif kehadiran pasar modern di kota Pekalongan hanya 26% saja mempengaruhi pendapatan pedagang pasar tradisional, oleh sebab itu perlu dicari akar permasalahan mengapa ada penurunan pendapatan pedagang, misalnya penurunan pendapatan mereka dipengaruhi adanya pasar tiban yang lagi marak di kota Pekalongan dan sekitarnya.



12


BAB VI
DAFTAR PUSTAKA

1.7 DAFTAR PUSTAKA
1        Anonim, 2006, , Penelitian Dampak Keberadaan Pasar Modern (Supermarket dan Hypermarket) Terhadap Usaha Ritel Koperasi/Waserda dan Pasar Tradisional,
2        Anonim, 2007, Kajian Dampak Ekonomi Keberadaan Hypermarket Terhadap Ritel/Pasar Tradisional, Jurnal Pengkajian Koperasi dan UKM Nomor 1 Tahun. www..Smecda.com/kajian/files/jurn al/hal_85/pdf
3         Daniel Suryadarma dkk, 2007, Dampak Supermarket Terhadap Pasar dan Pedagang Ritel/Tradisional di Daerah Perkotaan di Indonesia, Lembaga penelitian SMERU. www..Smeru.or.id/report/research/s upermarket/Supermarket_ind.pdf Daniel,
4        Wahyu, 2007, Peran Pasar Tradisional memudar, DPD Tuding Pemodal Besar, Detiknet, Jakarta http://jkt6a.detikspot.com/read/2007 /08/23/105431/820634/4/peran- pasar-tradisional-memudar-dpd- tuding-pemodal-besar Ekapribadi,
5         Wildan, 207, Pasar Modern : Ancaman Bagi Bagi Pasar Tradisional ?, Jakarta. http://amartabisma.wordpress.com/ 2007/11/8//pasar-modern-ancaman- bagi –pasar-tradisional/ Indrakh, 2007, Pasar Tradisioanal di Tengah Kepungan Pasar Modern, http://indrakh.wordpress.com/2007/ 09/03/pasar-tradisional-di-tengah- kepungan-pasar-modern/
6        Jurnal Penelitian Koperasi dan UKM Nomor 1 tahun 2006 : Penelitian Dampak Keberadaan Pasar Modern (Supermarket & Hipermarket) Terhadap Usaha Ritel Koperasi/Waserba dan Pasar Tradisional. http://www.smecda.com/kajian/files/ jurnal/Hal_85.pdf
7         Mudradjat Kuncoro, 2008, Strategi Pengembangan Pasar Modern dan Tradisional, Kadin Indonesi www.mudrajad.com/.../pasr%20mo dern%20tradisional-KADIN-107- 2998-18072008.
8        pdf Marten Rapael Hutabarat, 2009, Dampak Kehadiran Pasar Modern Brastagi Supermarket Terhadap Pasar Tradisional SEI Sikambing di Kota Medan, Universitas Sumatera Utara Medan. Images.sugengsantoso5ka17.multipl y.multiplycontent.com/.../4/artikel% 20ekonomi.doc?......
9        Suliyanto, 2009, Praktikum Analisis Statistik, Magister Sains Ekonomi Manajemen, Universitas Jenderal Sudirman, Purwokerto
10    Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 112 Tahun 2007 Tentang Penataan Dan Pembinaan Pasar Tradisional Pusat Perbelanjaan Dan Toko Modern Wikipedia, 2010.pasar http://id.wikipedia.org/wiki/pasar Pasar Tiban Membuat Pendapatan Pasar Tradisional Menurun, http://www.rasikafm.net/.../index.ph p ?
11     pasar tiban membuat pendapatan pasar tradisional menurun Siti Nurhayti, dkk, 2010, Studi Kajian Soaial Ekonomi Pendirian Toko Modern Carrefour di Kota Pekalongan, Fakultas Ekonomi Universitas Pekalongan.










13